Tulisan kali ini mencoba untuk menerjemahkan mengenai Media Spectacle karangan Douglass kellner. Dalam buku ini Douglass kellner mencoba menggambarkan bagaimana Politik Pemilihan Presiden di Amerika Serikat, dan yang menjadi contoh kasus adalah Pemilihan Presiden Obama yang menjadi Media Tontonan tidak hanya di Amerika serikat tetapi juga di seluruh dunia bahkan di Indonesia karena Obama pernah tinggal di Indonesia. Bagaimana media tontonan dalam pemilihan presiden digambarkan dengan analisis Media spectacle dari Guy Debord oleh Douglass kellner dengan sangat menarik. Apa yang saya posting ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan tulisan Douglas Kellner, untuk lebih detilnya bisa dibaca dari bukunya, karena saya hanya mempostingkan pengantarnya saja..... Mudah2an yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk menambah referensi.
MEDIA TONTONAN, POLITIK
PRESIDENSIAL,
DAN TRANSFORMASI JURNALISME
oleh DOUGLAS KELLNER
Mainstream korporasi media saat ini ini di AS semakin menumbuhkan
proses peristiwa, berita, dan informasi dalam bentuk media tontonan (lihat Kellner 2001; 2003a, 2003b,
2005, 2008). Dalam arena dari
kompetisi yang semakin intensif dengan 24/7 jaringan TV kabel, radio talk,
internet dan blog dan berkembangnya media baru seperti Facebook, My space,
Twitter dan You Tube, persaingan lebih intens lagi dalam memimpin perusahaan media untuk masuk ke cerita sensasional tabloidized
yang
mereka konstruksikan dalam bentuk media tontonan yang berusaha menarik audience secara
maksimal sebanyak mungkin , hingga tontonan berikutnya muncul.
Dengan tontonan, ini
berarti media mengkonstruksi sesuatu di luar kebiasaan dan kebiasaan rutin
sehari-hari menjadi media tontonan khusus. Mereka melibatkan dimensi estetik
dan kadang-kadang dramatis, terikat dengan kompetisi seperti Olimpiade atau
Oscar. Media tontonan mengacu pada peristiwa-peristiwa yang dimediai secara
teknologi, dimana bentuk media seperti broadcasting, media cetak atau proses peristiwa
internet dalam bentuk spektakuler. Sebagai contoh peristiwa politik yang
menjadi media tontonan meliputi sex Clinton dan skandal impeachment di akhir
tahun 1990-an, kematian Putri Diana, 9/11 serangan terror, dan saat ini, krisis
AS dan mungkin sistem keuangan global. Misalnya, tanggal 11 September 2001 serangan
teroris pada
the World Trade center dan Pentagon menjadi
media tontonan global yang mendominasi
berita-berita dari hari ke hari. Selanjutnya, dengan serangan teroris di London, Madrid, Bali, dan lain tempat di dunia,
berita harian akan ditafsirkan dengan buletin "Breaking
News" pada
serangan
teroris yang kemudian akan
mendominasi jurnalisme selama berhari-hari.
Douglas memulai teori media tontonan sebagai
bentuk utama dari jurnalisme dalam media komersial saat ini didominasi oleh
media korporat, dan kemudian mengilustrasikan teorinya dengan sebuah analisa
dari kampanye Presiden tahun 2008. Argumennya adalah bahwa berita-berita dan
informasi dalam situasi yang dikontrol oleh media korporat perkembangannya
didominasi oleh bentuk-bentuk media tontonan yang mengubah kealamiahan
jurnalisme di era yang semakin ditandai dengan gambar, sensasionalisme, dan tontonan.
Masyarakat Tontonan Guy Debord
dan Media Tontonan:
Beberapa Perbedaan Konseptual
Konsep dari “media
tontonan” dikembangkan oleh teoritis Perancis Guy Debord (dalam bukunya Society
of the Spectacle) dan kawannya dalam situasi internasional yang memiliki dampak
besar pada bermacam-macam teori kontemporer dari masyarakat dan budaya. Gagasan
dari media tontonan dibangun dari konsep Debord
masyarakat tontonan tetapi berbeda secara signifikan. Untuk Debord
“tontonan” merupakan konsep menyeluruh
untuk menggambarkan media dan masyarakat konsumen,
termasuk kemasan, promosi, dan menampilkan komoditas
dan produksi dan efek dari semua media. Menggunakan istilah "media tontonan," Douglass sangat berfokus pada berbagai bentuk
teknologi yang dibangun media produksi yang diproduksi dan disebarkan melalui massa yang disebut media, mulai dari radio dan televisi ke internet nirkabel dan gadget
terbaru.
Lebih
jauh, sementara Debord menyajikan gagasan
yang agak umum dan abstrak dari
tontonan, Douglass melibatkan contoh spesifik
dari tontonan media dan bagaimana mereka diproduksi, dibangun, diedarkan, dan fungsinya dalam era sekarang. Douglass juga
berargumentasi bahwa media tontonan adalah kolonisasi berita dan informasi,
terutama pada jaringan berita kabel, tetapi juga semakin berkembang di media cetak
dan internet, khususnya bentuk komersial yang dikendalikan oleh media korporat. Dia juga
berargumentasi bahwa media tontonan menjadi bentuk dari kontes politik,
khususnya di AS, tetapi berkembang secara global dengan baik. Sehingga, berbeda
dengan pandangan Debord pada monolithic tontonan yang merupakan media
dan masyarakat konsumen secara
keseluruhan dan
dengan demikian adalah agen ampuh untuk kapitalisme, Douglass
melihat tontonan sebagai
rebutan dan memiliki pengertian kebalikan dari tontonan. Dalam konsepsi Douglass, tontonan
adalah daerah yang diperebutkan di mana kekuatan yang berbeda menggunakan
tontonan untuk mendorong minat mereka (kellner 2003a, 2003b, 2005, 2008).
Memang, politik
dan jurnalisme semakin dimediasi oleh media tontonan. Konflik
politik, kampanye, dan yang menarik perhatian kejadian yang kita sebut
"Berita" semuanya telah tunduk pada
logika tontonan dan tabloidization di
era sensasionalisme media, skandal infotainment,
politik dan kontestasi, seperti perang budaya yang
tak berujung, fenomena yang
sedang berlangsung dari Perang Teror,
dan sekarang muncul era tontonan Obama.
Media tontonan adalah menjadi bentuk dalam
berita-berita, informasi dan peristiwa-peristiwa dari era yang diproses oleh
media korporat, negara dan kelompok politik dan institusi dan individu-individu
yang memiliki kekukatan untuk mengkonstruksi realitas politik dan sosial. Dalam
era awal broadcasting, peristiwa-peristiwa media adalah bentuk utama dalam
media dan negara dikonstruksikan secara signifikan ritual social yang
mereproduksikan masyarakat yang ada. Peristiwa media cenderung biasa, terpisah,
jangka pendek dan relative bisa diduga (Dayan dan Katz 1992). Dalam era awal
TV, seperti argumentasi Lang dan Lang (1992 [1984], peristiwa media menjadi
penanda utama dan menyusun realitas politik dan social dari hari, meskipun
seperti Boorstin (1961) memperingatkan, mereka juga dapat mengkonstruksikan
pseudo-events/ peristiwa-samaran/pura-pura.
Media tontonan, di sisi lain, lebih
membingungkan, penuh variasi, tidak dapat diprediksi dan penuh dengan kontes.
Media tontonan mendorong bentuk dominan dari mendefinisikan dan memperlombakan
keadaan sosial dan realita sosial selama era kabel dan TV satelit dan peristiwa
metafisikal dari internet, yang merubah segalanya. Dimana peristiwa media
cenderung nasional, media tontonan
kadang-kadang global. Pada apa yang Mc Luhan (1964) lihat sebagai “global
Village”, network dan kabel dunia mengalami kejadian yang sama secara simultan
dan secara real time selama September 2008, ketika seluruh dunia menderita karena keracunan susu Cina dan
kemudian krisis lembaga
keuangan, yang mengancam ekonomi global, atau
28 November serangan terror di Mumbai
Media
tontonan diatur oleh negara dalam kasus perang,
pemerintahan, atau pemilihan umum politik, sementara
perusahaan-perusahaan media harian mengkonstruksikan
media tontonan yang
keluar dari "berita aktual " dan apa yang
didefinisikan sebagai peristiwa utama dari hari. Perusahaan-perusahaan media ingin
menghubungkan konsumen ke dalam cerita besar sehingga mereka
akan stay
tune, login, atau memperhatikan pada peristiwa besar
yang semakin diatur sebagai media tontonan.