Rabu, 26 Desember 2018

CENTRAL JAVA






Central Java Province, is one of the Indonesia tourist destination areas. This Province offers various kinds of tourist attractions whether natural, cultural, or man made features. Central Java is located exactly in the middle of Java Island. Central Java is located between 5o 40' and 8o 30' South Latitude and between 108o 30' and 111o 30' East Longitude. This province is bordered by:
  • North side: Java Sea
  • South side: Indian Ocean and the Special Territory of Yogyakarta
  • West side: West Java Province
  • East side: East Java Province

Rabu, 10 Agustus 2016

MC HARUS SIAP DENGAN PERUBAHAN MENDADAK






Semarang, CyberNews. Seorang master ceremony (MC) harus siap menghadapi perubahan keadaan mendadak di luar dugaan yang tidak mengenakkan. Kalau tidak, bisa-bisa seorang MC menjadi kikuk dalam bertugas, dan memberi kesan tidak enak bagi audiens.  Untuk lebih lengkapnya silakan kunjungi link di bawah ini :




http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/06/17/88632/MC-Harus-Siap-Menghadapi-Perubahan-Mendadak

PELATIHAN APPLIED APPROACH BAGI DOSEN UNISSULA


Menjadi seorang dosen kita dituntut untuk memiliki ketrampilan mengajar, tidak hanya dari sisi pengetahuan tetapi juga memiliki kemampuan pedagogic dan mengembangkan materi pembelajaran dengan sebaik-baiknya agar capaian pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan juga mahasiswa yang kita hasilkan menjadi lebih kompeten. Upaya peningkatan kompetensi profesional dosen perguruan tinggi selalu menjadi pokok perhatian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen DIKTI). Hal ini didasarkan pada konsepsi bahwa dosen merupakan salah satu komponen yang sangat berperan dalam proses pembelajran dan secara langsung mempengaruhi peningkatan kualitas belajar mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Kopertis Wilayah VI, DYP Soegiharto dalam acara pembukaan Pelatihan AA (Applied Approach) bagi dosen Unissula Senin, 8 Agustus 2016 kemarin. DYP juga berharap bahwa hasil dari pelatihan ini akan menghasilkan peningkatan mutu dosen untuk lebih meningkatkan kualitas kompetensi diri pribadi.
Foto : Sambutan Koordinator Kopertis dalam Pembukaan Pelatihan AA bagi dosen Unissula

Sepenggal kisah Presenter

Membaca tentang Claudia Synta Bella yang berhijab setelah melakukan shooting film "Assalamu'alaikum Beijing" membuatku flashback pada sepenggal kisahku ketika menjadi presenter. Itu sama dg perasaanku wkt di thn 2005 di bln Oktober pas Romadhan baca berita pakai kerudung lama2 nyaman banget akhirnya pakai jilbab dg modifikasi warna, tp kemudian Allah menguji dg meminta memilih antara pekerjaan yg sangat aku sukai sbg presenter atau tetap meneruskan berhijab dan tepat di ultah ke 35 keputusan itu datang. Tidak mudah menerima kenyataan tp ketika kita memilih Allah maka janji Allah sll pasti.....satu hal yang kusyukuri adlh kemantapan hati utk berhijab dibandingkan pilihan berangkat  ke kantor dan pulang berkerudung, tp di depan kamera dilepas "kamu pembaca berita.....harus bersikap netral, jangan tunjukkan identitas agamamu di depan layar kaca" begitu kata salah satu redaksi waktu itu. 9 tahun kerja dengan hanya berkonsentrasi utk mjd penyiar yg baik, tp harus dilepas tanpa pesangon dan uang saku......sepenggal kisah di dini hari.....yg tdk pernah diketahui pemirsa....karena 2 bulan kemudian aku dipanggil utk mjd presenter gema Ramadhan selama 1 bln penuh, dan sesudah itu mjd host utk acara "Tepa Tuladha" sebuah acara yang memiliki visi mengembalikan martabat anak bangsa sampai dengan tahun 2013 ketika kesibukan mjd staf ahli rektor tdk bisa disambi dan badan melebar sudah memenuhi layar kaca. Ketika itu terjadi sudah dengan ikhlas dan pilihan hati melepas pekerjaan sbg presenter. Jadi jarang yang tahu kl aku pernah dipecat sbg presenter, krn tetap saja wajahku muncul di layar kaca selama 16 tahun..... itulah kuasa Allah.....makanya ada yang berkomentar sesama penyiar...."Mbak Made itu aneh tanpa hitam di atas putih (kontrak kerja) tetap saja bisa muncul di layar kaca". Itulah ketika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin.....semuanya bisa saja terjadi dalam hidup yang tidak pernah kebetulan ini. Presenter bukan segala-galanya ketika kita sudah bertemu dengan wajah Allah.

Jumat, 24 Oktober 2014

Semangat Hijrah

SELAMAT TAHUN BARU 1436 H

Mengkaji perjalanan selama setahun terakhir ini masih banyak yang perlu diperbaiki oleh diri, terutama dalam menyikapi hidup yang semakin tidak mudah dari tahu ke tahun. Berharap untuk bisa menatap masa depan yang lebih baik dengan spirit hijrah. Memasuki tahun baru memang bukan dengan hal-hal yang sifatnya mubazir, karena bagaimanapun tahun baru yang akan dihadapi pastinya juga dipenuhi dengan kerikil, dan sandungan yang lain....semoga tidak menjadikan kita tersungkur dan terjerembab. Hanya ampunan dan keridhoan dari Allah s.w.t. yang diharap. Selamat Tahun Baru teman-teman, semoga makin rajin mengisi blog dengan tulisan yang bermanfaat.

Jumat, 23 Maret 2012

HOW TO WIN FRIENDS


Do you belong to the group of people who find it hard to make new friends? Whether you do or do not, you still need to know what make people like you and want to be your friend. Dale Carnegie, author of “How to win Friends and Influence People” has suggested six points that you should practice when dealing with other people.
1    .      Be interested in them
Have you ever seen a dog waiting for its master and jump up on his lap wagging its tail happily? That is true affection. And this warm feeling shown by the animal makes people want to keep a dog. In the same way, you should show your warm and feeling towards other people. Make them feel that you are interested in whatever they feel, think and do.

2     .      Smile
A smile is magic. It can melt an iceberg if done properly. Smile when you meet the people you know or the people you are going to have contact with. Always smile in such a way that it reflects that phrases “I Like You”, “You Make Me Happy”, or “I am Glad to See You”.

3     .      Remember names
A person’s name is to that person the sweetest and most important sound in any language. Therefore, always try to remember names; concentrate hard when introduces to somebody, repeat and fix his name in your mind. If you meet him again use his name, in a friendly way.

4    .      Be a good listener
It doesn’t mean that you have to listen all the time without anything in a conversation, but means you have to encourage others to talk more about themselves. People want to be listened to and they are more interested in themselves and their wants and problems. Listen even their complaints about a rotten tooth, for it means more to them than anything.

 
5     .      Talk in terms of their interest
Have you ever heard Franklin D. Roosevelt? When expecting a visitor, he prepared by reading up on the subject in which he knew his guests was particularly interested. In so doing, he could talk about what his visitor treasured most. Roosevelt was well known not only for his positions as President of USA but also as a man who had a wide range of knowledge and as a good conversationalist.

6     .      Make them feel important
This is not an easy job but not an imposible one either. Make them feel important sincerely. Do not expect to get some thing out of it. Simply make them happy. In any situations try not to be rude and always be polite. Have the habbit of saying “I am sorry to trouble you….”, “Would you be as so kind as to…..” or “Thank You”.

Ask yourself if you do these things. If you don’t, then apply them in your daily life, according to Mr. Carnegie you will be popular with lots of friends and be successful in life. Always keep in mind the saying ”people need people”.




Kamis, 22 Maret 2012

Media Spectacle



Tulisan kali ini mencoba untuk menerjemahkan mengenai Media Spectacle karangan Douglass kellner. Dalam buku ini Douglass kellner mencoba menggambarkan bagaimana Politik Pemilihan Presiden di Amerika Serikat, dan yang menjadi contoh kasus adalah Pemilihan Presiden Obama yang menjadi Media Tontonan tidak hanya di Amerika serikat tetapi juga di seluruh dunia bahkan di Indonesia karena Obama pernah tinggal di Indonesia. Bagaimana media tontonan dalam pemilihan presiden digambarkan dengan analisis Media spectacle dari Guy Debord oleh Douglass kellner dengan sangat menarik. Apa yang saya posting ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan tulisan Douglas Kellner, untuk lebih detilnya bisa dibaca dari bukunya, karena saya hanya mempostingkan pengantarnya saja..... Mudah2an yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk menambah referensi.



MEDIA TONTONAN, POLITIK PRESIDENSIAL,
DAN TRANSFORMASI JURNALISME

oleh DOUGLAS KELLNER

Mainstream korporasi media saat ini  ini di AS semakin menumbuhkan proses peristiwa, berita, dan informasi dalam bentuk media tontonan  (lihat Kellner 2001; 2003a, 2003b, 2005, 2008). Dalam arena dari kompetisi yang semakin intensif dengan 24/7 jaringan TV kabel, radio talk, internet dan blog dan berkembangnya media baru seperti Facebook, My space, Twitter dan You Tube, persaingan lebih intens lagi dalam memimpin  perusahaan media  untuk masuk ke cerita sensasional tabloidized yang mereka  konstruksikan dalam bentuk media  tontonan yang berusaha menarik audience secara maksimal sebanyak mungkin , hingga tontonan berikutnya muncul.
Dengan tontonan, ini berarti media mengkonstruksi sesuatu di luar kebiasaan dan kebiasaan rutin sehari-hari menjadi media tontonan khusus. Mereka melibatkan dimensi estetik dan kadang-kadang dramatis, terikat dengan kompetisi seperti Olimpiade atau Oscar. Media tontonan mengacu pada peristiwa-peristiwa yang dimediai secara teknologi, dimana bentuk media seperti broadcasting, media cetak atau proses peristiwa internet dalam bentuk spektakuler. Sebagai contoh peristiwa politik yang menjadi media tontonan meliputi sex Clinton dan skandal impeachment di akhir tahun 1990-an, kematian Putri Diana, 9/11 serangan terror, dan saat ini, krisis AS dan mungkin sistem keuangan global. Misalnya, tanggal 11 September 2001 serangan teroris pada the World Trade center dan  Pentagon menjadi media tontonan global yang mendominasi berita-berita dari hari ke hari. Selanjutnya, dengan  serangan teroris di London, Madrid, Bali, dan lain tempat di dunia, berita harian akan ditafsirkan dengan buletin "Breaking News" pada  serangan teroris yang kemudian akan mendominasi jurnalisme selama  berhari-hari.
Douglas memulai teori media tontonan sebagai bentuk utama dari jurnalisme dalam media komersial saat ini didominasi oleh media korporat, dan kemudian mengilustrasikan teorinya dengan sebuah analisa dari kampanye Presiden tahun 2008. Argumennya adalah bahwa berita-berita dan informasi dalam situasi yang dikontrol oleh media korporat perkembangannya didominasi oleh bentuk-bentuk media tontonan yang mengubah kealamiahan jurnalisme di era yang semakin ditandai dengan gambar, sensasionalisme, dan tontonan.

Masyarakat Tontonan Guy Debord dan Media Tontonan:
Beberapa Perbedaan Konseptual


Konsep dari “media tontonan” dikembangkan oleh teoritis Perancis Guy Debord (dalam bukunya Society of the Spectacle) dan kawannya dalam situasi internasional yang memiliki dampak besar pada bermacam-macam teori kontemporer dari masyarakat dan budaya. Gagasan dari media tontonan dibangun dari konsep Debord  masyarakat tontonan tetapi berbeda secara signifikan. Untuk Debord “tontonan” merupakan konsep menyeluruh untuk menggambarkan media dan masyarakat konsumen, termasuk kemasan, promosi, dan menampilkan komoditas dan produksi dan efek dari semua media.  Menggunakan istilah "media tontonan," Douglass sangat berfokus pada berbagai bentuk teknologi yang dibangun media produksi yang diproduksi dan  disebarkan melalui massa yang disebut media, mulai dari radio dan televisi ke internet nirkabel dan gadget terbaru.
Lebih jauh, sementara Debord menyajikan gagasan yang agak umum dan abstrak dari tontonan, Douglass melibatkan contoh spesifik dari tontonan media dan bagaimana mereka diproduksi, dibangun, diedarkan, dan fungsinya dalam era sekarang. Douglass juga berargumentasi bahwa media tontonan adalah kolonisasi berita dan informasi, terutama pada  jaringan berita kabel, tetapi juga semakin berkembang di media cetak dan internet, khususnya  bentuk komersial yang dikendalikan oleh media korporat. Dia juga berargumentasi bahwa media tontonan menjadi bentuk dari kontes politik, khususnya di AS, tetapi berkembang secara global dengan baik. Sehingga, berbeda dengan pandangan Debord pada monolithic tontonan yang merupakan media dan masyarakat konsumen secara keseluruhan dan dengan demikian adalah agen ampuh untuk kapitalisme, Douglass melihat tontonan sebagai rebutan dan memiliki pengertian kebalikan dari tontonan. Dalam konsepsi Douglass, tontonan adalah daerah yang diperebutkan di mana kekuatan yang berbeda menggunakan tontonan untuk mendorong minat mereka (kellner 2003a, 2003b, 2005, 2008).
Memang, politik dan jurnalisme semakin dimediasi oleh  media tontonan. Konflik  politik, kampanye, dan yang menarik perhatian kejadian yang kita sebut "Berita" semuanya telah tunduk pada logika tontonan dan tabloidization di era sensasionalisme  media, skandal infotainment, politik dan kontestasi, seperti perang budaya yang tak berujung, fenomena yang sedang  berlangsung dari Perang Teror, dan sekarang muncul era tontonan Obama.
Media tontonan adalah menjadi bentuk dalam berita-berita, informasi dan peristiwa-peristiwa dari era yang diproses oleh media korporat, negara dan kelompok politik dan institusi dan individu-individu yang memiliki kekukatan untuk mengkonstruksi realitas politik dan sosial. Dalam era awal broadcasting, peristiwa-peristiwa media adalah bentuk utama dalam media dan negara dikonstruksikan secara signifikan ritual social yang mereproduksikan masyarakat yang ada. Peristiwa media cenderung biasa, terpisah, jangka pendek dan relative bisa diduga (Dayan dan Katz 1992). Dalam era awal TV, seperti argumentasi Lang dan Lang (1992 [1984], peristiwa media menjadi penanda utama dan menyusun realitas politik dan social dari hari, meskipun seperti Boorstin (1961) memperingatkan, mereka juga dapat mengkonstruksikan pseudo-events/ peristiwa-samaran/pura-pura.
Media tontonan, di sisi lain, lebih membingungkan, penuh variasi, tidak dapat diprediksi dan penuh dengan kontes. Media tontonan mendorong bentuk dominan dari mendefinisikan dan memperlombakan keadaan sosial dan realita sosial selama era kabel dan TV satelit dan peristiwa metafisikal dari internet, yang merubah segalanya. Dimana peristiwa media cenderung nasional,  media tontonan kadang-kadang global. Pada apa yang Mc Luhan (1964) lihat sebagai “global Village”, network dan kabel dunia mengalami kejadian yang sama secara simultan dan secara real time selama September 2008, ketika seluruh dunia  menderita karena keracunan susu Cina dan kemudian krisis lembaga keuangan, yang mengancam ekonomi global, atau 28 November serangan terror di Mumbai
       Media tontonan diatur oleh negara dalam kasus perang, pemerintahan, atau pemilihan umum politik, sementara perusahaan-perusahaan media harian  mengkonstruksikan  media tontonan yang keluar dari "berita aktual " dan apa yang didefinisikan sebagai peristiwa utama dari hari. Perusahaan-perusahaan media ingin menghubungkan konsumen ke dalam cerita besar sehingga mereka akan stay tune, login, atau memperhatikan pada peristiwa besar yang semakin diatur sebagai media tontonan.