SOSIALISASI TATA NILAI DALAM MEMBENTUK KEPATUHAN ANAK
MELALUI
KOMUNIKASI KELUARGA
Abstract
Family is a source to become a social human. In the relationship of family, people learn about everything that can build their personality. Every family have rules to obey, but sometimes children don’t want to obey it and disagree with the rules so compliance gaining is become a problem in family. Parent must make a communications beetwen the member of family and give socialization to the child. They need tactic and strategy to communicate with their child that can make comfort feel to do the rules. Bargaining position in communication can make people who involve in the communication feel encourage and agree with the reason of the rules.
Key word : sosialisasi, tata nilai, kepatuhan
PENDAHULUAN
Keluarga pada hakekatnya merupakan sumber utama yang paling awal mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan personal menjadi manusia sosial. Sejak seseorang dilahirkan, mengalami masa kanak-kanak, kemudian menjadi dewasa akan melewati pengalamannya di dalam keluarga. Lembaga Keluarga memegang peranan amat penting dalam setiap masyarakat. Para antropolog mencatat bahwa secara universal lembaga ini memegang fungsi: pengaturan seksual, penerus keturunan, sosialisasi, kasih sayang, penentuan status sosial, perlindungan dan ekonomi. Berger dan Luckman juga mengatakan bahwa persepsi terhadap dunia dari bapak atau ibu sebagai “significant others” ( orang yang amat penting dalam kehidupan anak) akan menjadi “objective reality” bagi si anak . “..........through them is filtered a view of the world as natural as normal”. (Berger and Luckman: 1967;125).
Namun di era industrialisasi, kehadiran keluarga berubah seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu, terutama bisa diidentifikasikan pada struktur dan fungsi. Pada struktur, terjadi perubahan dari ciri awalnya yang berbentuk keluarga besar (extended family) ke bentuk keluarga kecil (nuclear family). Sedangkan pada fungsinya, banyak fungsi keluarga yang kini tidak lagi dijalankan secara efektif. Misalnya fungsi sosisalisai nilai dan norma sosial, fungsi pemeliharaan dan pengasuhan anak serta fungsi pemberian kasih sayang (Surya, 1 Juli 1995). Sosialiasi dalam keluarga di masyarakat Indonesia kini sedang berada dalam proses perubahan yang cukup mendasar akibat industri, teknologi, modernisasi dan urbanisasi. Perbedaan pola sosialisasi dan komunikasi yang terjadi adalah akibat perubahan masyarakat karena munculnya fenomena keluarga kecil dengan adanya kepincangan struktur berupa “single parent families” , di samping itu juga karena perubahan pola kerja wanita bahwa sekarang ini pembagian tugas rumah tangga dilakukan bersama-sama antara istri dan suami, serta munculnya gejala keluarga dengan karir ganda karena wanita sebagai ibu juga bekerja di luar rumah serta tingginya angka perceraian. Hal ini tentunya akan memicu perubahan yang terjadi dalam keluarga. Keluarga sebagai institusi yang memberikan rasa kehangatan, keamanan, kedamaian dan sekaligus sosialisasi nilai-nilai kehidupan makin lama makin mengalami pergeseran. Sekarang ini, anak-anak dalam lingkungan keluarga tidak secara otomatis merasa aman terlindungi dan mempunyai pijakan yang kokoh (Kompas, 4 Juli 1995)
Salah satu bentuk penerapan fungsi dalam keluarga adalah adanya sosialisasi tata nilai dalam keluarga. Setiap keluarga pasti memiliki tata nilai sendiri. Tata nilai ini dapat berwujud sebagai peraturan keluarga, baik yang sifatnya tertulis maupun yang tidak tertulis. Peraturan keluarga sengaja dibuat untuk mengatur perilaku hidup keseharian anggota keluarga. Peraturan tersebut, misalnya berupa: kebiasaan-kebiasaan rutinitas keluarga seperti makan bersama, waktu belajar, waktu bermain, waktu tidur, serta aturan dalam bermain, bergaul dan etika bertetangga dan lain-lain.
Tata nilai dalam keluarga yang kemudian berkembang menjadi peraturan tersebut, idealnya dibagi bersama oleh anggota keluarga melalui penerapan strategi pesan. Strategi pesan yang dimaksudkan adalah serangkaian taktik yang digunakan oleh orang tua untuk menguraikan tipe-tipe pesan dari hubungan keluarga yang tercipta melalui komunikasi antara orang tua dengan anak. Strategi pesan tersebut tercipta melalui suatu proses komunikasi yang difatnya diadik (dyadic communications). Yaitu, proses komunikasi yang berlangsung pada hubungan yang mantap dan jelas (Burgoon, 1981:200).. Dari proses ini, orang tua mengharapkan adanya kepatuhan dari anak. Namun berbagai perintah yang diberikan orang tua kepada anak tidak dengan begitu saja dapat membentu kepatuhan mereka. Anak cenderung mengembangkan kepatuhan yang kuat terhadap suatu perintah yang menurut persepsinya baik atau penting. Atau dapat juga terbentuk manakala anak melihat bahwa di samping dirinya terdapat banyak individu lain yang menunjukkan kepatuhan terhadap figur otoritas, dalam hal ini orang tua. Hal ini terjadi karena pada dasarnya kepatuhan adalah respon tipikal dari individu terhadap individu lain yang status dan kekuasaannya lebih tinggi.
Dalam strategi perolehan kepatuhan, peran orangtua menjadi hal yang sangat penting. Orang tua melalui strategi pesan berusaha untuk menanamkan dan menosialisasikan tata nilai atau peraturan dalam keluarga dan memaksimalkan hasil dari pelaksanaan peraturan yang sudah dibuat, dalam hal ini adalah kepatuhan. Sehingga yang menjadi permasalahan adalah bagaimana membentuk kepatuhan melalui strategi komunikasi keluarga sehingga proses sosialisasi tata nilai dalam keluarga bisa berjalan dengan baik.
PROSES PEROLEHAN KEPATUHAN DALAM TEORI
Perolehan kepatuhan dari orang lain merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan. Hal ini termasuk mencoba menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan atau menghentikan sesuatu pekerjaan yang tidak kita inginkan. Dengan kata lain, kepatuhan (compliance) menunjukkan adanya kekuatan yang mempengaruhi individu secara eksplisist.
Kepatuhan berbeda dengan konformitas. Kepatuhan adalah kekuatan yang mempengaruhi seorang individu dari individu lain yang status dan kekuasaannya lebih tinggi. Sedang konformitas lebih dipahami sebagai kekuatan untuk mempengaruhi seorang individu lain yang status dan kekuasaaannya sama (Koeswara,1989:193).
Pada intinya, asumsi dasar dari perolehan kepatuhan adalah bahwa pada setiap interaksi antar manusia selalu memunculkan apa yang disebut “power relationship” atau hubungan kekuasaan (Rakhmat,2000:163). Artinya, dalam setiap tindak komunikasi selalu ada individu yang mempengaruhi dan ada individu lain yang dipengaruhi. Proses saling pengaruh mempengaruhi ini kemudian akan memunculkan sikap percaya diri seseorang kepada orang lain yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi.
Pendapat senada dikemukakan oleh Gerald Marwell dan David Schmitt ( dalam Littlejohn,1996:119). Keduanya menggunakan pendekatan teori pertukaran untuk menjelaskan perolehan kepatuhan. Disebutkan bahwa kepatuhan adalah sebuah pertukaran antara yang memberi kepatuhan dengan yang menerima kepatuhan. Jika seseorang melakukan sesuatu yang kita kehendaki, maka kita akan memberikan sesuatu sebagai imbalannya, seperti: penghargaan, materi (uang), perasaan nyaman dan lain-lain. Pendekatan dengan teori pertukaran yang sering digunakan dalam teori sosial berdasarkan asumsi bahwa orang biasanya berbuat sesuatu dari orang lain sebagai ganti (pertukaran) untuk sesuatu yang lain. Model ini tidak dapat dipisahkan dari orientasi, kekuasaan. Dengan kata lain, kita dapat memperoleh kepatuhan dari orang lain bila kita memiliki sumber daya yang cukup untuk memeberikan apa yang mereka mau. Adapun proses perolehan kepatuhan adalah melalui beberapa tahapan, di antaranya :
1. Power and Compliance Gaining
Kekuasaaan adalah salah satu jalan untuk menjadi sumber yang berpengaruh, dan kekuasaaan merupakan salah satu hasil dari persepsi situasional. Artinya orang mempunyai kekuasaan sebanyak kekuasaan yang dipersepsikan orang lain. Lawrence Wheeless, Robert Barraclough, dan Robert Stewart (dalam litlejohn,1998:171) memisahkan tiga jenis kekuasaan. Kekuasaan yang pertama adalah persepsi bahwa seseorang dapat memanipulasi rangkaian tingkah laku dari suatu tindakan tertentu. Para orang tua sering menggunakan kekuasaaan jenis ini dalam bentuk “reward and punishment” (hadiah dan hukuman) pada anak. Sebagai contoh, orang tua berjanji untuk membelikan anak sepeda baru apabila mereka naik kelas. Atau sebaliknya, orang tua akan menghukum anak manakala mereka terlambat pulang sekolah.
Kekuasaan yang kedua adalah persepsi bahwa seseorang menduduki posisi hubungan yang penting atau seseorang menjadi sumber identifikasi bagi individu lain. Di sini orang yang berkuasa dapat mengidentifikasi elemen-elemen hubungan tertentu yang dapat menghasilkan kepatuhan atau seseorang dapat bertindak sebagai model atau contoh bagi orang lain. Orang tua yang dermawan akan menjadi contoh bagi anak untuk bersikap sosial. Sebaliknya orang tua yang suka berbohong akan menjadi contoh bagi anak untuk berbohong pada orang lain.
Sedangkan kekuasaan yang ketiga adalah kemampuan yang dipersepsikan untuk mendefinisikan nilai-nilai atau kewajiban-kewajiban, artinya seseorang memberi tanda apa yang benar dan apa yang baik, kemudian orang lain menyetujuinya dengan cara berperilaku sesuai dengan standar bersama. Sebagai contoh, orang tua mengajarkan pada anak bahwa berkelahi adalah tindakan yang kurang bijaksana untuk menyelesaikan suatu persoalan. Selanjutnya anak menerima peraturan tersebut dengan cara berperilaku sesuai perintah orang tua, yaitu menyelesaikan setiap persoalan dengan cara yang bijaksana dengan tidak berkelahi.
2. Conceptualization of Compliance Gaining Behaviour: Tactic and Strategy
Selanjutnya, dalam situasi perolehan kepatuhan, seseorang mengukur kekuasaaannya dan memilih taktik yang mendukung kekuasaannya itu. Artinya taktik perolehan kepatuhan adalah implementasi dari kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Schenck – Hamin dalam buku Communication Yearbook (Bostrom, 1983:114) menyebutkan bahwa,
A compliance gaining tactic as a verbal message unit that explicitly or implicity proposes as a behaviour and provides a reason or inducement through using a power basis that has potential control over behaviour that would not otherwise occur.
Artinya, taktik perolehan kepatuhan adalah suatu unit pesan verbal di mana secara implisit atau eksplisit mampu mengusulkan suatu perilaku dan memberikan alasan dengan menggunakan dasar kekuasaan yang potensial untuk mengontrol perilaku yang dianggap berlebihan.
Kemudian, Wheless dkk mendaftar sejumlah taktik yang dihubungkan dengan ketiga jenis kekuasaan di atas. Kekuasaan yang pertama, memilih taktik seperti: janji, ancaman, peringatan dan hadiah. Kekuasaan yang kedua, memilih taktik seperti : emotional appeal (daya tarik emosional), emphatic understanding (pemahaman untuk berempati), memuji dan lain-lain. Sedangkan kekuasaan yang ketiga menggunakan taktik, seperti : moral appeal (seruan moral), reason (penjelasan), guilt (menunjukkan perasaan bersalah) dan lain-lain (Littlejohn, 1988:171).
Serangkaian taktik yang digunakan dalam situasi perolehan kepatuhan disebut strategi. Terdapat beberapa pendapat tentang strategi pesan dalam perolehan kepatuhan. Pendapat pertama dikemukakan oleh Marwell dan Schmitt (1967) yang menyatakan bahwa “a strategy is here defined as a group of techniques or tactic”. Sedangkan Hazelton, Holdridge, dan Liska (1982) berpendapat bahwa,
“A strategy is the conceptual route by which the actor makes his/her intentions manifest to the target. Compliance gaining strategies contain (explicitly or implicitly) the response intended for the target to undertake and in inducement that provides a reason or motivation for doing it (emphasis added) (Bostrom, 1983:113)”.
“A more concise and appropriate term is tactic” In conflict theory the term “strategy” is used to refer to a sequences of actions or to family of related actions. The term “tactic” refers to a single action, or in the casse of communication, a single message. Thus, we would reserve the use of the term “strategy” for describing sequences of communication behaviour or a family of related type (emphasis added).”
Teoritisi lain yaitu Schenck – hamlin (1982) berpendapat bahwa,
“A strategy is the conceptual route by which the actor makes his/her intentions manifest to the target. Compliance gaining strategies contain (explicitly or implicitly) the response intended for the target to undertake and an inducement that provides a reason or motivation for doing it (emphasis added) (Bostrom, 1983:113)”.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada intinya strategi pesan digunakan untuk menguraikan hubungan dari perilaku komunikasi atau menguraikan tipe-tipe pesan dari hubungan keluarga. Dalam buku Theories of Human Communications, fifth Editions (Littlejohn,1996:119) terdapat dua pendapat mengenai strategi dalam perolehan kepatuhan.
Pendapat pertama dari Marwell dan Scmitt. Pada mulanya mereka membagi strategi perolehan kepatuhan dalam 16 kategori, yaitu : promising (menjanjikan suatu imbalan untuk kepatuhan), threatening (menunjukkan bahwa hukuman akan diberikan kepada yang tidak patuh), showing expertise about positive outcomes (menunjukkan bagaimana hal-hal yang baik akan terjadi kepada yang patuh), liking (memperlihatkan adanya persahabatan/keramahtamahan), pregiving (memberikan imbalan sebelum meminta kepatuhan), applying aversive stimulation (menerapkan hukuman sampai kepatuhan dirasakan sudah terpenuhi), calling in a debt (mengatakan bahwa seseorang berhutang sesuatu karena kebaikan di masa lalu).
Strategi yang selanjutnya adalah : making moral appeals (menggambarkan kepatuhan sebagai moralitas yang baik), attributing positive feelings (menyampaikan pada orang lain betapa dia akan merasakan kebaikan manakala ada kepatuhan), atributing negative feelings (menyampaikan pada orang lain betapa dia akan merasakan kesusahan bila tidak ada kepatuhan), positive altercasting (mengasosiasikan kepatuhan dengan orang yang berkualitas baik), negative altercasting (mengasosiasikan ketidakpatuhan dengan orang yang berkualitas tidak baik), seeking altruistic compliance (memandang kepatuhan sebagai sekedar menolong/kebaikan hati), showing positive esteem (mengatakan bahwa seseorang akan merasa lebih disukai bila mereka patuh), dan strategi yang terakhir adalah showing negative esteem (mengatakan bahwa seseorang akan merasa lebih tidak disukai bila tidak patuh).
Namun setelah dianalisis lebih lanjut keenambelas kategori tersebut dapat disederhanakan menjadi lima kategori, yaitu rewarding (penghargaan, contoh: janji), punishing (hukuman, contoh : ancaman), expertise (kecakapan atau keahlian, contoh : penghargaan atas kepandaian), impersonal commitments (komitmen interpersonal, contoh : seruan moral), dan personal commitments (komitmen personal, contoh : dianggap sebagai hutang). Sedangkan pendpat kedua, merupakan perkembangan lebih lanjut dikemukakan oleh William Schenck-Hamlin, Richard Wiseman, dan G.N. Georgacarakos (dalam Littlejohn,1995:121). Mereka membagi strategi perolehan kepatuhan dalam empat kategori, yaitu :
a. Sanction Strategies (Strategi Sanksi)
Strategi sanksi ini didasarkan pada dua hal :
1. Reward Appeals, diwujudkan melalui : janji, hutang (-“Setelah saya meletakkan semuanya untukmu seharusnya kamu patuh”-), hadiah, bujukan dan penghargaan.
2. Punishment appeals, diwujudkan melalui : ancaman, peringatan, perasaan bersalah, serta hukuman.
b. Altruism Strategies (Strategi Altruisme)
Yaitu strategi di mana aktor (orang yang mempengaruhi) mengatakan pada orang yang akan dituju bahwa tindakan memberi bantuan adalah sesuatu hal yang sangat istimewa (terpuji). Kehebatan daya tarik ini dapat dimanipulasi dengan membuat orang tersebut merasa sebagai seorang pahlawan, seseorang yang suka menolong dan murah hati. Strategi altruisme ini dapat tercermin melalui pernyataan : (-“Akan sangat membantu bilai kamu mau melakukan ini”, atau – “Maukan kamu membantu saya?”-). Selain itu strategi altruisme juga terwujud melalui simpati dan empati. Misalnya :
1. Orang tua menumbuhkan simpati pada anak dengan mengatakan, “Kami akan mempunyai masalah bila kamu melanggar peraturan ini, jadi taatilah!”.
2. Orang tua menumbuhkan empati pada anak, misalnya dengan kesediaan orang tua untuk meninjau kembali peraturan manakala anak merasa keberatan.
c. Argument Strategies (Strategi Alasan)
Yaitu strategi dimana orang yang mempengaruhi menyampaikan tujuan untuk mencari kepatuhan disertai dengan alasan-alasan. Pengungkapan alasan bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Strategi alasan ini misalnya tercermin dari perilaku, seperti :
1. Orang tua meminta anak untuk belajar lebih giat dengan alasan ujian EBTA sudah semakin dekat (langsung).
2. Orang tua membuat peraturan bahwa anak tidak boleh berkelahi. Suatu saat anak terlibat perkelahian, orang tua tidak mengomentari perilaku anak tersebut secara verbal, namun bahasa non verbal orang tua menunjukkan ketidaksetujuannya atas perilaku anak. Misalnya, dengan mendiamkan anak untuk sementara waktu, atau menatap tajam pada anak untuk menyatakan ketidaksukaannya (secara tidak langsung).
d. Circumvention Strategies (Strategi Pengelakan)
Yaitu strategi di mana orang mempengaruhi dengan sengaja menggunakan kesalahan dlam menggambarkan karakteristik atau pengaruh pada respon yang diinginkan untuk memperoleh kepatuhan, misalnya dengan menggunakan kebohongan (ketidakjujuran). Pada strategi ini, komunikator tidak memiliki kemampuan untuk memberikan imbalan seperti yang dijanjikan. Bentuk perilaku kebodohan ini, misalnya : orang tua mengatakan pada anak akan memberikan hadiah bila anak rajin belajar dan lulus sekolah. Namun, setelah anak lulus orang tua mengelak/menolak untuk memberikan hadiah pada anak. Orang tua mengatakan bahwa sudah sewajarnya bila anak rajin belajar karena itu memang sudah menjadi tugas seorang pelajar.
3. Situasional Factors in Compliance Gaining Strategy
Pilihan seseorang terhadap strategi perolehan kepatuhan dapat bergantung pada sejumlah faktor. Salah satu faktor yang paling penting adalah persepsi para komunikator (pemberi pesan) terhadap situasi dimana kepatuhan itu sedang dicari. Penelitian yang dilakukan oleh Michael Cody, Margaret Mc. Laughlin dkk (dalam Littlejohn, 1998:172) menunjukkan bahwa persepsi situasional merupakan faktor yang penting, tidak hanya dalam perolehan kepatuhan, tetapi juga pada hampir semua situasi komunikasi. Dengan kata lain, bagaimana kita menunjukkan reaksi dan apa yang kita pilih untuk dilakukan sebagian besar tergantung pada situasi dimana kita berada.
Cody dkk mengidentifikasikan enam faktor yang dapat mempengaruhi definisi seseorang mengenai situasi dan dapat pula mempengaruhi strategi perolehan kepatuhan yang dipilih oleh komunikator.
1. Intimacy (keintiman)
Komunikator yang sudah intim akan menggunakan metode yang lebih emosional, cenderung menggunakan daya tarik cinta kasih dan pengertian empati.
2. Dominance (dominasi)
Merupakan persepsi bahwa seseorang mempunyai wewenang dan penguasaan atas orang lain. Dominasi ini dimungkinkan melekat baik pada orang tua maupun anak. Hanya saja, dalam kultur budaya kita, dominasi ini lebih banyak dipegang oleh orang tua.
3. Right to persuade (hak untuk membujuk)
Artinya, dalam beberapa situasi, kita mempunyai hak untuk mempengaruhi orang lain. Sedangkan pada situasi yang lain, kita mungkin akan berfikir dua kali sebelum mempengaruhi orang lain. Saat orang tua memiliki situasi untuk memperoleh kepatuhan dari anak, maka orang tua akan menggunakan teknik-teknik penekanan yang sifatnya langsung.
4. Personal benefits (keuntungan-keuntungan pribadi)
Berhubungan dengan manfaat apa yang diperoleh seseorang dari usahanya untuk membuat orang lain menjadi patuh. Jika orang tua merasa akan memperoleh banyak manfaat dari kepatuhan, maka ia akan menggunakan strategi yang dirancang untuk memaksimalkan kepatuhan dari anak.
5. Relational consequences (konsekuensi-konsekuensi dari hubungan)
(konsekuensi-konsekuensi dari hubungan). Komunikator akan menggunakan trade-off (pertukaran) dengan lebih sering. Jika definisi mereka mengenai hubungan sudah mencapai tahap yang stabil. Orang tua akan lebih menggunakan metode pertukaran dengan anak apabila pesan mereka tentang kepatuhan mendapat respon yang positif dari anak.
6. Apprehension (kecemasan/ketegangan)
Jika komunikator merasa akan muncul kecemasan/ketegangan, maka mereka akan menggunakan pesan yang dirancang untuk menghindarkan hal tersebut. Jika orang tua merasa bila keinginan mereka untuk memperoleh kepatuhan ditanggapi secara negatif oleh anak, maka mereka akan menggunakan strategi yang sifatnya lebih halus.
SOSIALISASI DALAM KERANGKA PEMIKIRAN SOSIOLOGI
Sosialisasi merupakan proses yang amat penting dalam kehidupan bermasyarakat bahkan merupakan proses paling dasar dalam terbentuknya masyarakat. Melalui proses inilah nilai, norma dan ketrampilan-ketrampilan lain diajarkan kepada individu agar dapat hidup secara normal di dalam masyarakat. Sosialisasi di dalam keluarga biasa disebut sebagai “primary socialization” yaitu sosialisasi yang pertama diterima oleh seorang anak. Menurut Talcot Parson yang dikutip oleh P. Wiratomo dalam jurnal Prisma 1994 (hal.11-12) mengatakan, sosialisasi primer dalam keluarga menghasilkan “basic personality structure” dimana pola orientasi nilai yang ditanamkan pada seseorang akan sulit diubah lagi sepanjang kehidupannya. Dengan demikian dalam pandangan Parsons peranan keluarga amat menonjol . Individu seolah-olah hanya memainkan peran yang telah diberikan kepadanya (role playing). Tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi merupakan suatu perlibatan diri secara aktif disertai berbagai penyesuaian diri terhadap masyarakat sekeliling nya sehingga seorang individu mampu mengambil peran tertentu atas inisiatifnya sendiri (role taking) bahkan pelibatan diri yang mampu mengubah masyarakat sekelilingnya (role making).
Proses sosialisasi dalam konsepsi Parsons sering disebut Passive Theory of Socialization di mana sosialisasi dilihat sebagai proses satu arah. Orang tua menanamkan nilai-nilai dan anak menerima serta belajar sampai perilakunya berubah dan terbentuklah suatu khazanah nilai dan norma dalam kepribadian individu yang disebut sebagai basic personality structure. Individu seolah-olah hanya memainkan peran yang telah diberikan kepadanya (role playing), tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi merupakan suatu pelibatan diri secara aktif disertai berbagai penyesuaian diri terhadap masyarakat sekelilingnya sehingga seorang individu mampu mengambil peran tertentu atas inisiatifnya sendiri (role taking) bahkan pelibatan diri yang mampu mengubah masyarakat sekelilingnya (role making). George Herbert Mead dan Blumer (1965:535-544) sepakat bahwa manusia tidak hanya mampu melaksanakan perannya, merespons orientasi nilai serta struktur sosial yang ada, tetapi juga secara aktif menciptakan perannya di dalam masyarakat.
Pandangan para interaksionis tersebut merupakan suatu kemajuan dalam ilmu sosiologi dalam melihat fenomena sosialisasi sehingga dinamika di dalam masyarakat dapat dijelaskan. Namun lebih jauh lagi para ahli sosiologi yang beraliran kritis ternyata telah berhasil menambahkan suatu perspektif yang lebih jauh mengenai proses yang basic ini. Mereka menjelaskan bahwa peran itu sendiri sebenarnya merupakan structured network of expectation yaitu harapan yang tidak diterima oleh individu secara konsensus (rela) tetapi ditentukan oleh struktur kekuasaan. Karena itu proses sosialisasi bukan hanya merupakan proses yang penuh kedamaian dari orang tua kepada anaknya, tetapi proses yang amat mengandung konflik suatu kelompok kepentingan pada kelompok lainnya. Selalu ada jarak antara pemegang dan perannya (role distance). Misalnya, seorang murid merasa bahwa perannya sebagai murid tidak seluruhnya sesuai dengan keinginannya, tetapi lebih banyak di”tentukan” oleh pihak-pihak lain yang berkuasa seperti guru, orang tua bahkan pemerintah. Sehingga tidak mengherankan apabila mereka sering mengalami keresahan, sehingga di sini peran pendampingan orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk kepatuhan pada anak.
Lembaga keluarga memegang peran amat penting dalam setiap masyarakat. Para sosiolog mencatat bahwa secara universal lembaga ini memegang fungsi: pengaturan seksual, penerus keturunan, sosialisasi, kasih sayang, penentuan status sosial seseorang, perlindungan dan ekonomi. Beberapa peneliti pendidikan juga menemukan bahwa keluarga merupakan faktor determinan paling berpengaruh terhadap prestasi pendidikan anak dan status pekerjaannya di kemudian hari; kemudian menyusul lingkungan pergaulan (peer group) dan ketiga baru sekolah.
Dalam menggambarkan pola sosialisasi di dalam keluarga Indonesia, dewasa ini kita perlu melihat perspektif perubahan yang sedang melanda masyarakat Indonesia yaitu industrialisasi, ditandai dengan meningkatnya tenaga kerja pria maupun wanita yang bekerja di sektor industri, berkembangnya norma dan nilai kehidupan yang modern, tingkat urbanisasi yang tinggi, masuknya pengaruh dari gejala globalisasi dan revolusi informasi yang membuat dunia ini menjadi semakin transparan bagi semua orang, serta turunnya angka kelahiran yang membuat pola keluarga Indonesia menjadi keluarga kecil. Perubahan struktur keluarga tersebut ternyata sebagian besar telah mewarnai kehidupan keluarga di masyarakat.
SOSIALISASI TATA NILAI DALAM KOMUNIKASI KELUARGA
Perubahan dalam struktur dan fungsi dalam keluarga dewasa ini tidak dapat dihindari karena bangsa Indonesia tidak mungkin menghindar dari proses yang melanda seluruh masyarakat dunia, seperti mengglobalnya masyarakat dunia. Dalam pola perkembangan teknologi yang berkesinambungan dan pesat dewasa ini pola sosialisasi nilai ini tidak hanya diadopsi dari orang tua, tetapi dari berbagai hal yang ada, misalnya kehadiran televisi yang mungkin bisa mengambil alih peran sosialisasi tata nilai dalam keluarga apabila kedua orang tua bekerja, sehingga aksesibilitas komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam membentuk kepatuhan anak pada peraturan keluarga. Walaupun orang tua bekerja, namun bila komunikasi yang dilakukan antara orang tua dan anak berkualitas maka kehadiran televisi tidak bisa menggantikan kehadiran orang tua bagi anak-anak. Orang tua harus menyadari bahwa walaupun fungsi sosialisasi tata nilai lembaga keluarga secara kuantitatif mungkin berkurang, tetapi secara kualitatif masih harus dipertahankan dengan cara mengatur agar proses sosialisasi dilakukan secara isii mengisi antara anggota keluarga.
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seorang pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) melalui media (pesan) yang menghasilkan kesamaan pemaknaan dan menghasilkan umpan balik sesuai dengan yang diharapkan oleh komunikator. Hubungan antara orang tua dengan anak menjadi hal yang sangat penting karena hubungan itu menjadi dasar bagi hubungan komunikasi seluruh keluarga. Proses komunikasi diadik pulalah yang menjadi kunci bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menjadi dewasa. Pengenalan, pemahaman dan pengambilan sikap seorang anak terhadap realitas sosial yang ada, didapatkan melalui proses komunikasi dalam keluarga. Pada masa kanak-kanak berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan sosial mulai diberikan orang tua kepada anak. Pada masa ini pula, orang tua mensosialisasikan tata nilai atau peraturan dalam keluarga. Sosialisasi nilai ini akan berlangsung terus menerus sampai anak menginjak dewasa. Penerapan strategi pesan perlu diperhatikan pula oleh orang tua, agar proses sosialisasi tata nilai bisa berjalan dengan baik.
KESIMPULAN
Pola sosialisasi dalam keluarga di masyarakat Indonesia kini sedang dalam proses perubahan yang cukup mendasar. Sebagaimana digambarkan di atas, proses sosialisasi yang terjadi dalam masyarakat selalu cenderung mempertahankan kelompok yang berkuasa, sehingga di dalam lingkungan keluarga, ketika berbicara tentang perolehan kepatuhan tidak mungkin terlepas dari pillihan strategi pesan dan pilihan taktik yang dilakukan oleh orang tua. Walaupun fungsi sosialisasi tata nilai dalam keluarga secara kuantitas mengalami perubahan, namun secara kualitas masih bisa dipertahankan dengan melakukan komunikasi keluarga yang intensif melalui pilihan strategi dan taktik yang tepat.