Selasa, 25 Oktober 2011

Tradisi Teori Komuunikasi Massa


TRADISI TEORI KOMUNIKASI MASSA

                 Dalam memahami teori dalam komunikasi massa ada beberapa tradisi yang bisa digunakan, namun yang sering dipakai adalah tradisi dari  Robert T. Craig  yang terdiri dari tradisi Semiotika, Sibernetika, Sosiopsikologis, Sosiokultural, Fenomenologi, Kritis dan Retorika.
Harold Innis dan Mc. Luhan’s tentang medium theory (tradisi sosiokultural)
 Semiotics (tradisi semiotika)
bagaimana teks itu dikaji dan dipahami untuk mengungkap apa yang ada di balik teks.
Media as social institution (tradisi kritikal)
-          Teori Marxisme
-          Political-Economic Media Theory
-          The Frankfurt School of Thaught/ School of Thaught.
-          The Hegemonic Theory
-          The Sociocultural Approach.

Media and Audience
-          Mass society adalah sekelompok orang yang mudah dibentuk oleh media
-          Keterkaitan dengan audience pasif
-          Community adalah kelompok orang yang tidak mudah dipengaruhi oleh media
-          Keterkaitan dengan audience aktif.

Theories of Cultural Outcomes
-          The Functions of Mass Communication (Tradisi Sosiokultural)
-          The Diffusion of Information and Influence
-          Public Opinion and the Spiral of Silence (tradisi sibernetika)
-          Cultivation analysis (tradisi sosiopsikologis) seperti menancapkan seuatu, jadi ketika audience itu senang dengan berita criminal maka audience akan menganggap bahwa lingkungan di sekitarnya tidak aman.
-          The Agenda Setting Function (tradisi Sosiokultural) : sangat ditentukan oleh masing2 karakteristik media.

Theories of Indiviudal Outcomes (Tradisi Sosiopsikologis).
-          The Effect Tradition
-          Uses, Gratifications and Dependency

Innis and McLuhan (Medium Theory)
-          Memperlakukan media komunikasi sebagai esensi peradaban
-          Terkenal dengan pernyataan global village, karena batas-batas wilayah, ruang dan waktu tidak lagi menjadi kendala.
-          Kapanpun di manapun kita bisa berkomunikasi tanpa harus dibatasi oleh persoalan ruang dan waktu.
Teknologi akan merubah, perkembangan teknologi akan selalu berkaitan dengan perubahan di masyarakat.
Nilai penting dari sebuah peradaban adalah teknologi
Media komunikasi dipahami sebagai perluasan pikiran manusia contoh :
-          Roda merupakan perluasan dari kaki
-          Buku merupakan perluasan dari mata
-          Pakaian merupakan perluasan dari kulit, dan
-          Sirkuit listrik merupakan perluasan dari sistem syaraf sentral.

Semiotics
Bagi semiotician :
-          Content  atau pesan merupakan hal yang utama
-          Pemaknaan pesan bergantung pada pembacaan yang dilakukan oleh pencipta atau pengguna pesan.
Semiotika memfokuskan :
-          Cara-cara produsen menciptakan tanda-tanda; dan
-          Cara-cara khalayak memahami tanda-tanda tersebut.
-          Merupakan studi tentang signifikansi
-          Cara tanda-tanda dipakai untuk menginterpretasikan peristiwa
-          Karenanya semiotika merupakan alat untuk menganalisis pesan-pesan media.
Analisis isi itu istilah yang generik, karena sama-sama melihat pada isi pesan namun analisis isi digunakan sebagai metoda yang digunakan untuk menganalisis yang bersifat kuantitatif. Kalau semiotika, analisis wacana, framing, analisis resepsi menggunakan metode penelitian kualitatif.
Postulat utama dalam semiotika:
-Pesan-pesan dari media dapat mengungkapkan beragam makna, sehingga sebuah teks dapat dipahami dalam beragam cara pula. Artinya setiap orang memiliki otonomi untuk memaknai sebuah realitas. Bisa saja pemaknaan yang dilakukan atas foto peristiwa tertentu berbeda dengan pemaknaan yang dilakukan oleh orang lain. Bagaimana kita mencoba memaknai teks tergantung kepentingan kita juga.
- Pesan-pesan media memperoleh maknanya melalui assosiasi-assosiasi yang dibuat oleh khalayak. Ketika kita meneliti menggunakan semiotika kita akan mencoba untuk mengkaitkan dengan apa yang ada dalam diri kita.
-          Makna dari suatu pesan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa di luar pesan itu sendiri.
Realitas itu tidak bisa dipahami secara tunggal, bukan sesuatu yang ada dalam dirinya, tetapi juga berkaitan dengan yang diluar sana.

Teori-teori dalam cara berfikir Kritikal
  1. Classical Marxisme
. Media merupakan instrument dari kelas dominan dan sarana bagi para kapitalis untuk kepentingan profit-making mereka.
. Media menyebarkan ideologi dari kelas penguasa dalam masyarakat. Cara demikian akan menindas kelas-kelas tertentu.

  1. Political-Economic Media Theory
. Seperti Marxisme Klasik, teori ini menyalahkan kepemilikan media yang menyebabkan “sakitnya” masyarakat.
. Isi media merupakan komoditi yang dijual di pasar. Informasi yang disampaikan dikontrol oleh permintaan pasar.
. Sistem atau cara ini mengarah pada operasi tanpa resiko. Kalau media menyajikan program yang menjadi kebutuhan masyarakat, maka kemungkinan akan mengalami kerugian dari sisi biaya, sementara kalau menyajikan program yang diinginkan  masyarakat dari sisi rugi laba akan lebih memberikan keuntungan besar.
. Menyebabkan jenis-jenis program tertentu menjadi dominan dan program lainnya menjadi marjinal.

  1. The Frankfurt School
. Media dipahami sebagai sarana untuk mengkonstruksikan budaya. Budaya di sini buka berarti kesenian, tetapi lebih pada gagasan.
. Lebih member penekanan pada gagasan daripada hal-hal yang sifatnya material.
. Media mengarah pada dominasi ideology kelompok elite.


  1. The Hegemonic Theory
. Hegemoni adalah dominasi dari ideology palsu (a false of ideology)
. Cara berfikir yang melampaui kondisi-kondisi yang benar.
. Ideologi tidak disebabkan oleh sistem ekonomi saja, tetapi melekat dalam semua aktifitas masyarakat.
. Ideologi tidak dipaksakan oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain, tetapi menembus dan tidak disadari.
Ideologi dominan mengekalkan kepentingan dari kelas-kelas tertentu terhadap kelas lain.

  1. The Sociocultural Approach
. Dikenal juga dengan “Cultural Studies”
. Memberi perhatian pada makna cultural dariproduk=produk media.
. Melihat cara-cara isi media diinterpretasikan secara dominan dan oposisional.

Mass Society versus Community
. Dalam mass society, khalayak dipandang sebagai populasi yang besar yang dapat dibentuk oleh media. Terjadi bila bergantung pada media sebagai satu-satunya sumber informasi.
Dalam passive-audience view menegaskan bahwa orang mudah dipengaruhi oleh media secara langsung.
. Dalam community, kahlayak dipahami sebagai anggota dari kelompok-kelompok kecil yang sangat dipengaruhi oleh “peer group” mereka.
Tidak bergantung pada satu-satunya sumber informasi dari media, punya sumber informasi yang lain.
The active-audience view mengaskan bahwa orang membuat keputusan-keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media.

Active Audience vs Passive Audience
Karakteristik khalayak aktif :
-          Selecitivity : selektif memilih media yang akan digunakan.
-          Utilitarianism: khalayak aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka.
-          Intentionality : berkaitan dengan tujuan menggunakan isi media.
-          Involvement : khalayak secara aktif memahamio berfikir, dan menggunakan media
-          Impervious to influence: khlayak aktif tidak mudah dipersuasi oleh media.



The Functions of Mass Communication
-Surveillance of the environment : Media memberikan informasi tentang berbagai peristiwa yang terjadi.
-Correlation of the parts of the society in responding to its environement: media memberikan pilihan-pilihan guna pemecahan masalah:
-Menjelaskan, menginterpretasikan dan member komentar terhadap suatu peristiwa yang terjadi.
- Transmission of the Cultural Heritage: media menjadi sarana untuk melakukan sosialisasi dan edukasi.
- Entertianment : media memungkinkan setiap orang dapat melakukan relaksasi dan mengurangi ketegangan.

The Diffusion of Information and Influence
-          The Two step of flow theory/hypothetis
Ø  Individu-individu tertentu yang dikenal sbg opinion leader menerima informasi dari media dan kemudian menyamopaiakn informasi tersebut kepada peer group mereka.
-          Opinion Leader dapat dipilah dalam 2 jenis:
Ø  Monomorphism : berpengaruh pada satu topic
Ø  Polymorphism: berpengaruh pada lebih dari satu topic.
Difusi sebuah inovasi terjadi bila suatu gagasan menyebar dari satu sumber ke kawasan geografis di sekitarnya, atau dari satu orang ke orang lain dalam suatu kawasan tunggal. Difusi inovasi adalah time-consuming process. Ini berarti butuh waktu yang relatif panjang untuk menyampaikan inovasi atau penemuan baru tersebut. Saluran komunikasi massa memainkan peranan yang strtaegis dalam difusi, namun yang paling penting adalah jaringan antarpribadi.

Public Opinion and The Spiral of Silence
The Spiral of Silence terjadi ketika orang yang merasa opini mereka popular, maka orang tersebut akan mengekspresikannya. Sedangkan individu-individu yang opini mereka tidak popular, memilih untuk diam. Proses ini terjadi dalam sebuah spiral; Artinya, ada isu yang mendapat banyak publisitas, sedangkan isu lainnya hanya sedikit memperoleh publisitas.
 Terjadi karena ketakutan terhadap isolasi, ada usaha untuk menghindari siolasi dari suatu kelompok sosial. Ada pengecualian terhadap the spiral of silence, yaitu kelompok dan individu-individu yang tidak takut isolasi. Mereka adalah innovator, change-agent dan the avant-garde.

Sumber : Materi kuliah MPK Klasik

Minggu, 02 Oktober 2011

Elaboration Likelihood theory

Elaboration Likelihood Theory/Teori Elaborasi Kemungkinan


Model Elaborasi Kemungkinan menyatakan bahwa ada dua rute yang dapat dilalui mana kala
pesan persuasif diproses: rute pusat/central , yang menyediakan informasi secara lengkap, dan rute peripheral, yang berarti menggunakan  lagu, warna, dan dukungan selebriti


Persuasi memainkan peran penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Persuasi ada di sekitar kita. Komunikasi dari semua jenis adalah persuasi. Ada  banyak taktik persuasi yang berbeda untuk memanfaatkan pesan sebagai pesan persuasi. Sebuah model yang populer digunakan sebagai prinsip dalam persuasi adalah Elaboration Likelihood Theory  atau Teori Elaborasi Kemungkinan yang diciptakan oleh Richard E Petty dan John T Cacioppo.  Elaboration Likehood Theory ini  ( menyatakan bahwa ada dua rute melalui mana  pesan persuasif diproses: rute central dan perifer. Dikembangkan pada tahun 1980, model persuasi relatif baru mencoba untuk "menjelaskan bagaimana pesan persuasif bekerja untuk mengubah sikap penerima "(Moore, 2001).  Rute Central dan perifer: keduanya adalah gaya efektif teknik persuasi, namun masing-masing memiliki strategi dan prinsip-prinsip panduan untuk membuatnya lebih efektif. Memahami dua rute persuasi yang dibahas dalam Model Elaborasi Kemungkinan sangat penting untuk proses persuasi.


Rute Central/Tengah/Pusat
Pesan yang dikirim melalui rute pusat persuasi harus lurus ke depan dan lengkap. Rute pusat terdiri dari "pertimbangan bijaksana dari argumen (ide, konten) dalam pesan "(Benoit dkk., 2001). Penerima hati-hati dalam mendalami isi pesan dan mengevaluasi subyek ide. Pesan yang dikirim melalui rute ini harus memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi, yaitu, penerima harus benar-benar peduli tentang dan berhubungan dengan subjek. Karena itu penting bagi mereka, maka pesan akan dievaluasi secara menyeluruh. Pesan rute Tengah harus kuat. Pesan akan dibedah dan dianalisis dari setiap sudut, jadi sebaiknya memiliki beberapa substansi untuk itu.
Misalnya, pengawas lapangan golf sangat prihatin dengan kondisi rumput di lapangan golf tempat dia bekerja, maka ketika sebuah iklan produk baru keluar untuk menyemprot gulma, ia akan membayar perhatian, ia akan menganalisis isi pesan dan apa artinya untuk dia supaya rumput menjadi lebih hijau. Di sisi lain, seorang wanita bisnis yang tinggal di lantai apartemen  tidak memiliki perhatian dengan rumput itu, karena dia tidak memiliki halaman rumput. Oleh karena itu iklan semprotan gulma tidak penting baginya.

Kelemahan untuk mengirim pesan melalui rute central adalah bahwa penerima harus memiliki motivasi untuk menganalisis pesan. Jika penerima tidak langsung dipengaruhi oleh pesan, dia tidak akan menempatkan pesan tersebut  untuk dipertimbangkan. Oleh karena itu, pesan persuasif hilang pada banyak orang. Namun, bagi mereka yang terlibat langsung dengan masalah ini, ada dua keuntungan penting terkait dengan persuasi melalui rute pusat yaitu  "Perubahan sikap cenderung bertahan lebih lama daripada perubahan yang disebabkan melalui jalur peripheral"(Scott, 1996). Di lain kata, jika sikap dari penerima telah berubah sebagai hasilnya, kemungkinan yang terjadi pesan itu  akan lama menetap dan perasaan dicapai dengan persuasi rute sentral  lebih permanen dibandingkan dengan rute peripheral.


Rute Peripheral
Rute  persuasi peripheral berhasil untuk pesan dengan penerima yang rendah keterlibatannya,  motivasi penerima rendah, dan pesan lemah. Tidak seperti rute pusat,  pesan yang dikirim melalui rute peripheral tidak diproses secara kognitif. Sebaliknya, rute perifer menyatakan bahwa "jika seseorang tidak mampu untuk menguraikan pesan ekstensif, maka dia masih dapat dibujuk oleh faktor-faktor yang tidak ada hubungannya dengan  isi sebenarnya dari pesan itu sendiri "(Moore, 2001). Ini adalah tempat pemasaran, periklanan, dan hubungan masyarakat masuk Menurut Profesor Dekan Kruckeberg dan Ken Starck, "Pandangan publik dominan PR, pada kenyataannya, merupakan salah satu persuasif dan komunikasi tindakan ... "(Wilcox et al., 2003, p.214). Jadi bagaimana Anda pergi membujuk seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan produk Anda atau layanan untuk membeli  itu? Lagu catchy, warna-warna cerah, dan dukungan selebriti semua adalah cara  persuasi peripheral.  "Pesan tersebut akan berusaha untuk menarik perhatian dengan membuat penerima berpikir tentang sesuatu yang dia sudah akrab dengan dan memiliki pikiran positif tentang "

Sebagai contoh, Melihat Michael Jordan dalam iklan, seseorang akan berpikir, "Wah, dia seorang atlet hebat,." Dia  tidak perlu repot-repot untuk memeriksa isi dari iklan; dia akan membuat keputusan yang didasarkan pada isyarat peripheral. Persuasi peripheral  agak sederhana untuk berkembang karena tidak memiliki dasar dalam pesan faktual yang kuat. Sebaliknya, peripheral selalu memberikan isyarat seperti kelangkaan (Untuk Waktu Terbatas!)! Atau dirasakan (Buy MCI, saya lakukan) adalah faktor-faktor yang mendasar ketika  penerima membuat keputusan. Namun, persuasi peripheral tidak sekuat dan tahan lama seperti persuasi sentral. Meskipun dapat menghasilkan perubahan positif dalam perilaku, "untuk menjadikan perubahan yang lebih tahan lama pesan harus diulang selama periode waktu "  (Moore, 2001).


Kesimpulan :
Terdapat dua rute yang berbeda dari persuasi untuk dua jenis pesan: rute pusat/central  dan rute peripheral. Penting untuk memahami bahwa bila menargetkan penerima dengan keterlibatan  tinggi, pesan harus langsung dan penuh substansi. Di sisi lain, isyarat peripheral  dapat membujuk orang yang tidak tahu tentang pesan apapun. Meskipun merupakan prinsip yang relatif baru, Elaboration Likelihood Theory membantu untuk membedakan jenis pesan apa yang bekerja untuk khalayak yang spesifik.


Referensi

Benoit, William L., Stephenson, Michael T., and Tschida, David A. (2001, Winter): Communication Studies 52.4. Retrieved May 20, 2003 from the Academic Search database.

Moore, Charlie. (2001, Fall). Elaboration Likelihood Model. Retrieved May 20, 2003 www.ciaadvertising.org/student_account/fall_01 .

Scott, Cynthia. (1996) “Understanding attitude change in developing effective substance abuse: Prevention programs for adolescents.” School Counselor. 43.3. Retrieved

May 20, 2003 from the Academic Search database.  Wilcox, Dennis L., Cameron, Glent T,. Ault, Philip H., and Agee, Warren K. (2003).  Public Relations Strategies and Tactics. Boston: Pearson Education

Sumber :
http://www.fisherhouse.com/courses/elaboration_likelihood

Rabu, 24 Agustus 2011

MC Harus Siap Menghadapi Perubahan Mendadak


17 Juni 2011 | 20:40 wib
MC Harus Siap Menghadapi Perubahan Mendadak

Semarang, CyberNews. Seorang master ceremony (MC) harus siap menghadapi perubahan keadaan mendadak di luar dugaan yang tidak mengenakkan. Kalau tidak, bisa-bisa seorang MC menjadi kikuk dalam bertugas, dan memberi kesan tidak enak bagi audiens.
Pernah terjadi karena perubahan dadakan karena cuaca, mengharuskan MC menjalankan perannya di udara  terbuka dan angin keras. Akibatnya MC yang perempuan itu sambil memegangi mike, tangan yang lain sesekali membenarkan roknya yang pendek agar tak terlalu tersibak angin.
Pengalaman yang tidak mengenakkan MC tersebut diungkap oleh Made Dwi Adnyani, S Sos, M Si sebagai nara sumber pelatihan MC yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Undip, Jumat (17/6) di Fakultas Hukum Pleburan. Peserta sebanyak 33 orang dari perwakilan 10 fakultas, termasuk Ny Any Sudharto, S Sos, istri rektor yang sebelumnya membuka acara tersebut secara resmi.
Ditambahkan oleh Made Dwi Adnyani, dosen Fakultas Komunikasi Unissula dan  presenter TVRI tersebut, seorang MC harus mampu membaca situasi, menciptakan suasana sesuai dengan karakteristik acara dan memungkinkan untuk berdialog dengan audiens.
Untuk itu diperlukan orang yang ekstrove, yaitu orang yang suka mengekpresikan apa yang dipikirkan, dirasakan pada orang lain. "Pendek kata adalah orang suka memperbincangkan berbagai hal dengan orang lain secara terbuka," kata Made.
Karena  merupakan keterampilan, maka siapa pun bisa  menjadi MC asal mau selalu berlatih meningkatkan diri, serta mempunyai kriteria tertentu. "Seorang MC perlu berpengetahuan luas, cerdas, memiliki rasa humor, sabar, mampu berimajinasi, penuh antusiasme, rendah hati dan bersahabat, serta pandai bekerja sama," ujarnya.
Kegiatan ini merupakan progam seksi pendidikan untuk meningkatkan kualitas anggota, seperti dikatakan Ir Yani Sarwadi, ketua panitia.

sumber :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/06/17/88632/MC-Harus-Siap-Menghadapi-Perubahan-Mendadak

Sabtu, 02 April 2011

KOMUNIKASI KELUARGA


SOSIALISASI  TATA NILAI DALAM MEMBENTUK KEPATUHAN ANAK
MELALUI
 KOMUNIKASI KELUARGA

Abstract
Family is a source to become a social human. In the relationship of family, people learn about everything that can build their personality. Every family have rules to obey, but sometimes children don’t want to obey it and disagree with the rules so compliance gaining is become a problem in family. Parent must  make a communications beetwen the member of family and give socialization to the child. They need tactic and strategy to communicate with their child that can make comfort feel to do the rules. Bargaining position in communication can make people who involve in the communication feel encourage and agree with the reason of the rules.
Key word : sosialisasi, tata nilai, kepatuhan

PENDAHULUAN
                Keluarga pada hakekatnya merupakan sumber utama yang paling awal mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan personal menjadi manusia sosial. Sejak seseorang dilahirkan, mengalami masa kanak-kanak, kemudian menjadi dewasa akan melewati pengalamannya di dalam keluarga. Lembaga Keluarga memegang peranan amat penting dalam setiap masyarakat. Para antropolog mencatat bahwa secara universal lembaga ini memegang fungsi: pengaturan seksual, penerus keturunan, sosialisasi, kasih sayang, penentuan status sosial, perlindungan dan ekonomi. Berger dan Luckman juga mengatakan bahwa persepsi terhadap dunia dari bapak atau ibu sebagai “significant others” ( orang yang amat penting dalam kehidupan anak) akan menjadi “objective reality” bagi si anak . “..........through them is filtered a view of the world as natural as normal”. (Berger and Luckman: 1967;125).
                Namun di era industrialisasi, kehadiran keluarga berubah seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu, terutama bisa diidentifikasikan pada struktur dan fungsi. Pada struktur, terjadi perubahan dari ciri awalnya yang berbentuk keluarga besar (extended family) ke bentuk keluarga kecil (nuclear family). Sedangkan pada fungsinya, banyak fungsi keluarga yang kini tidak lagi dijalankan secara efektif. Misalnya fungsi sosisalisai nilai dan norma sosial, fungsi pemeliharaan dan pengasuhan anak serta fungsi pemberian kasih sayang (Surya, 1 Juli 1995).  Sosialiasi dalam keluarga di masyarakat Indonesia kini sedang berada dalam proses perubahan yang cukup mendasar akibat industri, teknologi, modernisasi dan urbanisasi. Perbedaan pola sosialisasi dan komunikasi yang terjadi adalah akibat perubahan masyarakat karena munculnya fenomena keluarga kecil dengan adanya  kepincangan struktur berupa “single parent families” ,  di samping itu juga karena perubahan pola kerja wanita bahwa sekarang ini pembagian tugas rumah tangga dilakukan bersama-sama antara istri dan suami, serta munculnya gejala keluarga dengan karir ganda karena wanita sebagai ibu juga bekerja di luar rumah serta tingginya angka perceraian. Hal ini tentunya akan  memicu perubahan yang terjadi dalam keluarga. Keluarga sebagai institusi yang memberikan rasa kehangatan, keamanan, kedamaian dan sekaligus sosialisasi nilai-nilai kehidupan makin lama makin mengalami pergeseran. Sekarang ini, anak-anak dalam lingkungan keluarga tidak secara otomatis merasa aman terlindungi dan mempunyai pijakan yang kokoh (Kompas, 4 Juli 1995)
Salah satu bentuk penerapan fungsi dalam keluarga adalah adanya sosialisasi tata nilai dalam keluarga. Setiap keluarga pasti memiliki tata nilai sendiri. Tata nilai ini dapat berwujud sebagai peraturan keluarga, baik yang sifatnya tertulis maupun yang tidak tertulis. Peraturan keluarga sengaja dibuat untuk mengatur perilaku hidup keseharian anggota keluarga. Peraturan tersebut, misalnya berupa: kebiasaan-kebiasaan rutinitas keluarga seperti makan bersama, waktu belajar, waktu bermain, waktu tidur,  serta aturan dalam bermain, bergaul dan etika bertetangga dan lain-lain.
Tata nilai dalam keluarga yang kemudian berkembang menjadi peraturan tersebut, idealnya dibagi bersama oleh anggota keluarga melalui penerapan strategi pesan. Strategi pesan yang dimaksudkan adalah serangkaian taktik yang digunakan oleh orang tua untuk menguraikan tipe-tipe pesan dari hubungan keluarga yang tercipta melalui komunikasi antara orang tua dengan anak. Strategi pesan tersebut tercipta melalui suatu proses komunikasi yang difatnya diadik (dyadic communications). Yaitu, proses komunikasi yang berlangsung pada hubungan yang mantap dan jelas (Burgoon, 1981:200).. Dari proses ini, orang tua mengharapkan adanya kepatuhan dari anak.  Namun berbagai perintah yang diberikan orang tua kepada anak tidak dengan begitu saja dapat membentu kepatuhan mereka. Anak cenderung mengembangkan kepatuhan yang kuat terhadap suatu perintah yang menurut persepsinya baik atau penting. Atau dapat juga terbentuk manakala anak melihat bahwa di samping dirinya terdapat banyak individu lain yang menunjukkan kepatuhan terhadap figur otoritas, dalam hal ini orang tua. Hal ini terjadi karena pada dasarnya kepatuhan adalah respon tipikal dari individu terhadap individu lain yang status dan kekuasaannya lebih tinggi.
Dalam strategi perolehan kepatuhan, peran orangtua menjadi hal yang sangat penting. Orang tua melalui strategi pesan berusaha untuk menanamkan dan menosialisasikan tata nilai atau peraturan dalam keluarga dan memaksimalkan hasil dari pelaksanaan peraturan yang sudah dibuat, dalam hal ini adalah kepatuhan. Sehingga yang menjadi permasalahan adalah bagaimana membentuk kepatuhan melalui strategi komunikasi keluarga sehingga proses sosialisasi tata nilai dalam keluarga bisa berjalan dengan baik.
PROSES PEROLEHAN KEPATUHAN DALAM TEORI
Perolehan kepatuhan dari orang lain merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan. Hal ini termasuk mencoba menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan atau menghentikan sesuatu pekerjaan yang tidak kita inginkan. Dengan kata lain, kepatuhan (compliance) menunjukkan adanya kekuatan yang mempengaruhi individu secara eksplisist.
Kepatuhan berbeda dengan konformitas. Kepatuhan adalah kekuatan yang mempengaruhi seorang individu dari individu lain yang status dan kekuasaannya lebih tinggi. Sedang konformitas lebih dipahami sebagai kekuatan untuk mempengaruhi seorang individu lain yang status dan kekuasaaannya sama (Koeswara,1989:193).
Pada intinya, asumsi dasar dari perolehan kepatuhan adalah bahwa pada setiap interaksi antar manusia selalu memunculkan apa yang disebut “power relationship” atau hubungan kekuasaan (Rakhmat,2000:163). Artinya, dalam setiap tindak komunikasi selalu ada individu yang mempengaruhi dan ada individu lain yang dipengaruhi. Proses saling pengaruh mempengaruhi ini kemudian akan memunculkan sikap percaya diri seseorang kepada orang lain yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi.
Pendapat senada dikemukakan oleh Gerald Marwell dan David Schmitt ( dalam Littlejohn,1996:119). Keduanya menggunakan pendekatan teori pertukaran untuk menjelaskan perolehan kepatuhan. Disebutkan bahwa kepatuhan adalah sebuah pertukaran antara yang memberi kepatuhan dengan yang menerima kepatuhan. Jika seseorang melakukan sesuatu yang kita kehendaki, maka kita akan memberikan sesuatu sebagai imbalannya, seperti: penghargaan, materi (uang), perasaan nyaman dan lain-lain. Pendekatan dengan teori pertukaran yang sering digunakan dalam teori sosial berdasarkan asumsi bahwa orang biasanya berbuat sesuatu dari orang lain sebagai ganti (pertukaran) untuk sesuatu yang lain. Model ini tidak dapat dipisahkan dari orientasi, kekuasaan. Dengan kata lain, kita dapat memperoleh kepatuhan dari orang lain bila kita memiliki sumber daya yang cukup untuk memeberikan apa yang mereka mau. Adapun proses perolehan kepatuhan adalah melalui beberapa tahapan, di antaranya :
1.       Power and Compliance Gaining
Kekuasaaan adalah salah satu jalan untuk menjadi sumber yang berpengaruh, dan kekuasaaan merupakan salah satu hasil dari persepsi situasional. Artinya orang mempunyai kekuasaan sebanyak kekuasaan yang dipersepsikan orang lain. Lawrence Wheeless, Robert Barraclough, dan Robert Stewart (dalam litlejohn,1998:171) memisahkan tiga jenis kekuasaan. Kekuasaan yang pertama adalah persepsi bahwa seseorang dapat memanipulasi rangkaian tingkah laku dari suatu tindakan tertentu. Para orang tua sering menggunakan kekuasaaan jenis ini dalam bentuk “reward and punishment” (hadiah dan hukuman) pada anak. Sebagai contoh, orang tua berjanji untuk membelikan anak sepeda baru apabila mereka naik kelas. Atau sebaliknya, orang tua akan menghukum anak manakala mereka terlambat pulang sekolah.
                Kekuasaan yang kedua adalah persepsi bahwa seseorang menduduki posisi hubungan yang penting atau seseorang menjadi sumber identifikasi bagi individu lain. Di sini orang yang berkuasa dapat mengidentifikasi elemen-elemen hubungan tertentu yang dapat menghasilkan kepatuhan atau seseorang dapat bertindak sebagai model atau contoh bagi orang lain. Orang tua yang dermawan akan menjadi contoh bagi anak untuk bersikap sosial. Sebaliknya orang tua yang suka berbohong akan menjadi contoh bagi anak untuk berbohong pada orang lain.
                Sedangkan kekuasaan yang ketiga adalah kemampuan yang dipersepsikan untuk mendefinisikan nilai-nilai atau kewajiban-kewajiban, artinya seseorang memberi tanda apa yang benar dan apa yang baik, kemudian orang  lain menyetujuinya dengan cara berperilaku sesuai dengan standar bersama. Sebagai contoh, orang tua mengajarkan pada anak bahwa berkelahi adalah tindakan yang kurang bijaksana untuk menyelesaikan suatu persoalan. Selanjutnya anak menerima peraturan tersebut dengan cara berperilaku sesuai perintah orang tua, yaitu menyelesaikan setiap persoalan dengan cara yang bijaksana dengan tidak berkelahi.
2.       Conceptualization of Compliance Gaining Behaviour: Tactic and Strategy
Selanjutnya, dalam situasi perolehan kepatuhan, seseorang mengukur kekuasaaannya dan memilih taktik yang mendukung kekuasaannya itu. Artinya taktik perolehan kepatuhan adalah implementasi dari kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Schenck – Hamin dalam buku Communication Yearbook (Bostrom, 1983:114) menyebutkan bahwa,
A compliance gaining tactic as a verbal message unit that explicitly or implicity proposes as a behaviour and provides a reason or inducement through using a power basis that has potential control over behaviour that would not otherwise occur.
Artinya, taktik perolehan kepatuhan adalah suatu unit pesan verbal di mana secara implisit atau eksplisit mampu mengusulkan suatu perilaku dan memberikan alasan dengan menggunakan dasar kekuasaan yang potensial untuk mengontrol perilaku yang dianggap berlebihan.
Kemudian, Wheless dkk mendaftar sejumlah taktik yang dihubungkan dengan ketiga jenis kekuasaan di atas. Kekuasaan yang pertama, memilih taktik seperti: janji, ancaman, peringatan dan hadiah. Kekuasaan yang kedua, memilih taktik seperti : emotional appeal (daya tarik emosional), emphatic understanding (pemahaman untuk berempati), memuji dan lain-lain. Sedangkan kekuasaan yang ketiga menggunakan taktik, seperti : moral appeal (seruan moral), reason (penjelasan), guilt (menunjukkan perasaan bersalah) dan lain-lain (Littlejohn, 1988:171).
Serangkaian taktik yang digunakan dalam situasi perolehan kepatuhan disebut strategi. Terdapat beberapa pendapat tentang strategi pesan dalam perolehan kepatuhan. Pendapat pertama dikemukakan oleh Marwell dan Schmitt (1967) yang menyatakan bahwa “a strategy is here defined as a group of techniques or tactic”. Sedangkan Hazelton, Holdridge, dan Liska (1982) berpendapat bahwa,
A strategy is the conceptual route by which the actor makes his/her intentions manifest to the target. Compliance gaining strategies contain (explicitly or implicitly) the response intended for the target to undertake and in inducement that provides a reason or motivation for doing it (emphasis added) (Bostrom, 1983:113)”.
A more concise and appropriate term is tactic” In conflict theory the term “strategy” is used to refer to a sequences of actions or to family of related actions. The term “tactic” refers to a single action, or in the casse of communication, a single message. Thus, we would reserve the use of the term “strategy” for describing sequences of communication behaviour or a family of related type (emphasis added).”
Teoritisi lain yaitu Schenck – hamlin (1982) berpendapat bahwa,
A strategy is the conceptual route by which the actor makes his/her intentions manifest to the target. Compliance gaining strategies contain (explicitly or implicitly) the response intended for the target to undertake and an inducement that provides a reason or motivation  for doing it (emphasis added) (Bostrom, 1983:113)”.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada intinya strategi pesan digunakan untuk menguraikan hubungan dari perilaku komunikasi atau menguraikan tipe-tipe pesan dari hubungan keluarga. Dalam buku Theories of Human Communications, fifth Editions (Littlejohn,1996:119) terdapat dua pendapat mengenai strategi dalam perolehan kepatuhan.
Pendapat pertama dari Marwell dan Scmitt. Pada mulanya mereka membagi strategi perolehan kepatuhan dalam 16 kategori, yaitu : promising (menjanjikan suatu imbalan untuk kepatuhan), threatening (menunjukkan bahwa hukuman akan diberikan kepada yang tidak patuh), showing expertise about positive outcomes (menunjukkan bagaimana hal-hal yang baik akan terjadi kepada yang patuh), liking (memperlihatkan adanya persahabatan/keramahtamahan), pregiving (memberikan imbalan sebelum meminta kepatuhan), applying aversive stimulation (menerapkan hukuman sampai kepatuhan dirasakan sudah terpenuhi), calling in a debt (mengatakan bahwa seseorang berhutang sesuatu karena kebaikan di masa lalu).
Strategi yang selanjutnya adalah : making moral appeals (menggambarkan kepatuhan sebagai moralitas yang baik), attributing positive feelings (menyampaikan pada orang lain betapa dia akan merasakan kebaikan manakala ada kepatuhan), atributing negative feelings (menyampaikan pada orang lain betapa dia akan merasakan kesusahan bila tidak ada kepatuhan), positive altercasting (mengasosiasikan kepatuhan dengan orang yang berkualitas baik), negative altercasting (mengasosiasikan ketidakpatuhan dengan orang yang berkualitas tidak baik), seeking altruistic compliance (memandang kepatuhan sebagai sekedar menolong/kebaikan hati), showing positive esteem (mengatakan bahwa seseorang akan merasa lebih disukai bila mereka patuh), dan strategi yang terakhir adalah showing negative esteem (mengatakan bahwa seseorang akan  merasa lebih tidak disukai bila tidak patuh).
Namun setelah dianalisis lebih lanjut keenambelas kategori tersebut dapat disederhanakan menjadi lima kategori, yaitu rewarding (penghargaan, contoh: janji), punishing (hukuman, contoh : ancaman), expertise (kecakapan atau keahlian, contoh : penghargaan atas kepandaian), impersonal commitments (komitmen interpersonal, contoh : seruan moral), dan personal commitments (komitmen personal, contoh : dianggap sebagai hutang). Sedangkan pendpat kedua, merupakan perkembangan lebih lanjut dikemukakan oleh William Schenck-Hamlin, Richard Wiseman, dan G.N. Georgacarakos (dalam Littlejohn,1995:121). Mereka membagi strategi perolehan kepatuhan dalam empat kategori, yaitu :
a.      Sanction Strategies (Strategi Sanksi)
Strategi sanksi ini didasarkan pada dua hal :
1.       Reward Appeals, diwujudkan melalui : janji, hutang (-“Setelah saya meletakkan semuanya untukmu seharusnya kamu patuh”-), hadiah, bujukan dan penghargaan.
2.       Punishment appeals, diwujudkan melalui : ancaman, peringatan, perasaan bersalah, serta hukuman.
b.      Altruism Strategies (Strategi Altruisme)
Yaitu strategi di mana aktor (orang yang mempengaruhi) mengatakan pada orang yang akan dituju bahwa tindakan memberi bantuan adalah sesuatu hal yang sangat istimewa (terpuji). Kehebatan daya tarik ini dapat dimanipulasi dengan membuat orang tersebut merasa sebagai seorang pahlawan, seseorang yang suka menolong dan murah hati. Strategi altruisme ini dapat tercermin melalui pernyataan : (-“Akan sangat membantu bilai kamu mau melakukan ini”, atau – “Maukan kamu membantu saya?”-). Selain itu strategi altruisme juga terwujud melalui simpati dan empati. Misalnya :
1.       Orang tua menumbuhkan simpati pada anak dengan mengatakan, “Kami akan mempunyai masalah bila kamu melanggar peraturan ini, jadi taatilah!”.
2.       Orang tua menumbuhkan empati pada anak, misalnya dengan kesediaan orang tua untuk meninjau kembali peraturan manakala anak merasa keberatan.
c.       Argument Strategies (Strategi Alasan)
Yaitu strategi dimana orang yang mempengaruhi menyampaikan tujuan untuk mencari kepatuhan disertai dengan alasan-alasan. Pengungkapan alasan bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Strategi alasan ini misalnya tercermin dari perilaku, seperti :
1.       Orang tua meminta anak untuk belajar lebih giat dengan alasan ujian EBTA sudah semakin dekat (langsung).
2.       Orang tua membuat peraturan bahwa anak tidak boleh berkelahi. Suatu saat anak terlibat perkelahian, orang tua tidak mengomentari perilaku anak tersebut secara verbal, namun bahasa non verbal orang tua menunjukkan ketidaksetujuannya atas perilaku anak. Misalnya, dengan mendiamkan anak untuk sementara waktu, atau menatap tajam pada anak untuk menyatakan ketidaksukaannya (secara tidak langsung). 
d.      Circumvention Strategies (Strategi Pengelakan)
Yaitu strategi di mana orang mempengaruhi dengan sengaja menggunakan kesalahan dlam menggambarkan karakteristik atau pengaruh pada respon yang diinginkan untuk memperoleh kepatuhan, misalnya dengan menggunakan kebohongan (ketidakjujuran). Pada strategi ini, komunikator tidak memiliki kemampuan untuk memberikan imbalan seperti yang dijanjikan. Bentuk perilaku kebodohan ini, misalnya : orang tua mengatakan pada anak akan memberikan hadiah bila anak rajin belajar dan lulus sekolah. Namun, setelah anak lulus orang tua mengelak/menolak untuk memberikan hadiah pada anak. Orang tua mengatakan bahwa sudah sewajarnya bila anak rajin belajar karena itu memang sudah menjadi tugas seorang pelajar.
3.       Situasional Factors in Compliance Gaining Strategy
Pilihan seseorang terhadap strategi perolehan kepatuhan dapat bergantung pada sejumlah faktor. Salah satu faktor yang paling penting adalah persepsi para komunikator (pemberi pesan) terhadap situasi dimana kepatuhan itu sedang dicari. Penelitian yang dilakukan oleh Michael Cody, Margaret Mc. Laughlin dkk (dalam Littlejohn, 1998:172) menunjukkan bahwa persepsi situasional merupakan faktor yang penting, tidak hanya dalam perolehan kepatuhan, tetapi juga pada hampir semua situasi komunikasi.  Dengan kata lain, bagaimana kita menunjukkan reaksi dan apa yang kita pilih untuk dilakukan sebagian besar tergantung pada situasi dimana kita berada.
Cody dkk mengidentifikasikan enam faktor yang dapat mempengaruhi definisi seseorang mengenai situasi dan dapat pula mempengaruhi strategi perolehan kepatuhan yang dipilih oleh komunikator.

1.       Intimacy (keintiman)
Komunikator yang sudah intim akan menggunakan metode yang lebih emosional, cenderung menggunakan daya tarik cinta kasih dan pengertian empati.
2.       Dominance (dominasi)
Merupakan persepsi bahwa seseorang mempunyai wewenang dan penguasaan atas orang lain. Dominasi ini dimungkinkan melekat baik pada orang tua maupun anak. Hanya saja, dalam kultur budaya kita, dominasi ini lebih banyak dipegang oleh orang tua.
3.       Right to persuade (hak untuk membujuk)
Artinya, dalam beberapa situasi, kita mempunyai hak untuk mempengaruhi orang lain. Sedangkan pada situasi yang lain, kita mungkin akan berfikir dua kali sebelum mempengaruhi orang lain. Saat orang tua memiliki situasi untuk memperoleh kepatuhan dari anak, maka orang tua akan menggunakan teknik-teknik penekanan yang sifatnya langsung.
4.       Personal benefits (keuntungan-keuntungan pribadi)
Berhubungan dengan manfaat apa yang diperoleh seseorang dari usahanya untuk membuat orang lain menjadi patuh. Jika orang tua merasa akan memperoleh banyak manfaat dari kepatuhan, maka ia akan menggunakan strategi yang dirancang untuk memaksimalkan kepatuhan dari anak.
5.       Relational consequences (konsekuensi-konsekuensi dari hubungan)
(konsekuensi-konsekuensi dari hubungan). Komunikator akan menggunakan trade-off (pertukaran) dengan lebih sering. Jika definisi mereka mengenai hubungan sudah mencapai tahap yang stabil. Orang tua akan lebih menggunakan metode pertukaran dengan anak apabila pesan mereka tentang kepatuhan mendapat respon yang positif dari anak.
6.       Apprehension (kecemasan/ketegangan)
Jika komunikator merasa akan muncul kecemasan/ketegangan, maka mereka akan menggunakan pesan yang dirancang untuk menghindarkan hal tersebut. Jika orang tua merasa bila keinginan mereka untuk memperoleh kepatuhan ditanggapi secara negatif oleh anak, maka mereka akan menggunakan strategi yang sifatnya lebih halus.
SOSIALISASI DALAM KERANGKA PEMIKIRAN SOSIOLOGI
                Sosialisasi merupakan proses yang amat penting dalam kehidupan bermasyarakat bahkan merupakan proses paling dasar dalam terbentuknya masyarakat. Melalui proses inilah nilai, norma dan ketrampilan-ketrampilan lain diajarkan kepada individu agar dapat hidup secara normal di dalam masyarakat. Sosialisasi di dalam keluarga biasa disebut sebagai “primary socialization” yaitu sosialisasi yang pertama diterima oleh seorang anak. Menurut Talcot Parson yang dikutip oleh P. Wiratomo dalam jurnal Prisma 1994 (hal.11-12) mengatakan, sosialisasi primer dalam keluarga menghasilkan “basic personality structure” dimana pola orientasi nilai yang ditanamkan pada seseorang akan sulit diubah lagi sepanjang kehidupannya. Dengan demikian dalam pandangan Parsons peranan keluarga amat menonjol  . Individu seolah-olah hanya memainkan peran yang telah diberikan kepadanya (role playing). Tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi merupakan suatu perlibatan diri secara aktif disertai berbagai penyesuaian diri terhadap masyarakat sekeliling nya sehingga seorang individu mampu mengambil peran tertentu atas inisiatifnya sendiri (role taking) bahkan pelibatan diri yang mampu mengubah masyarakat sekelilingnya (role making).
                Proses sosialisasi dalam konsepsi Parsons sering disebut Passive Theory of Socialization di mana sosialisasi dilihat sebagai proses satu arah. Orang tua menanamkan nilai-nilai dan anak menerima serta belajar sampai perilakunya berubah dan terbentuklah suatu khazanah nilai dan norma dalam kepribadian individu yang disebut sebagai basic personality structure. Individu seolah-olah hanya memainkan peran yang telah diberikan kepadanya (role playing), tetapi dalam kehidupan sehari-hari teori ini kurang sesuai dengan kenyataan. Suatu peran di masyarakat ternyata bukan hanya merupakan passive acceptance dari seorang individu, tetapi merupakan suatu pelibatan diri secara aktif disertai berbagai penyesuaian diri terhadap masyarakat sekelilingnya sehingga seorang individu mampu mengambil peran tertentu atas inisiatifnya sendiri (role taking) bahkan pelibatan diri yang mampu mengubah masyarakat sekelilingnya (role making). George Herbert Mead  dan Blumer (1965:535-544) sepakat bahwa manusia tidak hanya mampu melaksanakan perannya, merespons orientasi nilai serta struktur sosial yang ada, tetapi juga secara aktif menciptakan perannya di dalam masyarakat.
                Pandangan para interaksionis tersebut merupakan suatu kemajuan dalam ilmu sosiologi dalam melihat fenomena sosialisasi sehingga dinamika di dalam masyarakat dapat dijelaskan.  Namun lebih jauh lagi para ahli sosiologi yang beraliran kritis ternyata telah berhasil menambahkan suatu perspektif yang lebih jauh mengenai proses yang basic ini. Mereka menjelaskan bahwa peran itu sendiri sebenarnya merupakan structured network of expectation yaitu harapan yang tidak diterima oleh individu secara konsensus (rela) tetapi ditentukan oleh struktur kekuasaan. Karena itu proses sosialisasi bukan hanya merupakan proses yang penuh kedamaian dari orang tua kepada anaknya, tetapi proses yang amat mengandung konflik suatu kelompok kepentingan pada kelompok lainnya. Selalu ada jarak antara pemegang dan perannya (role distance). Misalnya, seorang murid merasa bahwa perannya sebagai murid tidak seluruhnya sesuai dengan keinginannya, tetapi lebih banyak di”tentukan” oleh pihak-pihak lain yang berkuasa seperti guru, orang tua bahkan pemerintah. Sehingga tidak mengherankan apabila mereka sering mengalami keresahan, sehingga di sini peran pendampingan orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk kepatuhan pada anak.
                Lembaga keluarga memegang peran amat penting dalam setiap masyarakat. Para sosiolog mencatat bahwa secara universal lembaga ini memegang fungsi: pengaturan seksual, penerus keturunan, sosialisasi, kasih sayang, penentuan status sosial seseorang, perlindungan dan ekonomi. Beberapa peneliti pendidikan juga menemukan bahwa keluarga merupakan faktor determinan paling berpengaruh terhadap prestasi pendidikan anak dan status pekerjaannya di kemudian hari; kemudian menyusul lingkungan pergaulan (peer group) dan ketiga baru sekolah.
                Dalam menggambarkan pola sosialisasi di dalam keluarga Indonesia, dewasa ini kita perlu melihat perspektif perubahan yang sedang melanda masyarakat Indonesia yaitu industrialisasi, ditandai dengan meningkatnya tenaga kerja pria maupun wanita yang bekerja di sektor industri, berkembangnya norma dan nilai kehidupan yang modern, tingkat urbanisasi yang tinggi, masuknya pengaruh dari gejala globalisasi dan revolusi informasi yang membuat dunia ini menjadi semakin transparan bagi semua orang, serta turunnya angka kelahiran yang membuat pola keluarga Indonesia menjadi keluarga kecil. Perubahan struktur keluarga tersebut ternyata sebagian besar telah mewarnai kehidupan keluarga di masyarakat.
SOSIALISASI TATA NILAI DALAM KOMUNIKASI KELUARGA
                Perubahan dalam struktur dan fungsi dalam keluarga dewasa ini  tidak dapat dihindari karena bangsa Indonesia tidak mungkin menghindar dari proses yang melanda seluruh masyarakat dunia, seperti mengglobalnya masyarakat dunia. Dalam pola perkembangan teknologi yang berkesinambungan dan pesat dewasa ini  pola sosialisasi nilai ini tidak hanya diadopsi dari orang tua, tetapi dari berbagai hal yang ada,  misalnya kehadiran televisi yang mungkin bisa mengambil alih peran sosialisasi tata nilai dalam keluarga apabila kedua orang tua bekerja, sehingga aksesibilitas komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam membentuk kepatuhan anak pada peraturan keluarga. Walaupun orang tua bekerja, namun bila komunikasi yang dilakukan antara orang tua dan anak berkualitas maka kehadiran televisi tidak bisa menggantikan kehadiran orang tua bagi anak-anak.   Orang tua harus menyadari bahwa walaupun fungsi sosialisasi tata nilai lembaga keluarga secara kuantitatif mungkin berkurang, tetapi secara kualitatif masih harus dipertahankan dengan cara mengatur agar proses sosialisasi dilakukan secara isii mengisi antara anggota keluarga.
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seorang pengirim pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan) melalui media (pesan) yang menghasilkan kesamaan pemaknaan dan menghasilkan umpan balik sesuai dengan yang diharapkan oleh komunikator. Hubungan antara orang tua dengan anak menjadi hal yang sangat penting karena hubungan itu menjadi dasar bagi hubungan komunikasi seluruh keluarga. Proses komunikasi diadik pulalah yang menjadi kunci bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menjadi dewasa. Pengenalan, pemahaman dan pengambilan sikap seorang anak terhadap realitas sosial yang ada, didapatkan melalui proses komunikasi dalam keluarga. Pada masa kanak-kanak berbagai aspek yang berkaitan dengan kehidupan sosial mulai diberikan orang tua kepada anak. Pada masa ini pula, orang tua mensosialisasikan tata nilai atau peraturan dalam keluarga. Sosialisasi nilai ini akan berlangsung terus menerus sampai anak menginjak dewasa. Penerapan strategi pesan perlu diperhatikan pula oleh orang tua, agar proses sosialisasi tata nilai bisa berjalan dengan baik.
KESIMPULAN
                Pola sosialisasi dalam keluarga di masyarakat Indonesia kini sedang dalam proses perubahan yang cukup mendasar. Sebagaimana digambarkan di atas, proses sosialisasi yang terjadi dalam masyarakat selalu cenderung mempertahankan kelompok yang berkuasa, sehingga di dalam lingkungan keluarga, ketika berbicara tentang perolehan kepatuhan tidak mungkin terlepas dari pillihan strategi pesan dan pilihan taktik yang dilakukan oleh orang tua. Walaupun fungsi sosialisasi tata nilai dalam keluarga  secara kuantitas  mengalami perubahan, namun secara kualitas masih bisa dipertahankan dengan melakukan komunikasi keluarga yang intensif melalui pilihan strategi dan taktik yang tepat.