Ringkasan Film
Jika Anda penyuka jenis novel chicklit, maka The Ugly Truth merupakan
pilihan film yang tepat untuk ditonton. Pasalnya, dalam film ini
penggambaran tokoh utamanya, Abby Richter, sangat cocok dengan
tokoh-tokoh yang biasanya diumbar dalam chicklit. Cantik, menarik,
memiliki karir yang bagus, mandiri, namun tak beruntung dalam kisah
cinta.
Abby Richter (Katherine Heigl), seorang produser televisi, memiliki
semua kriteria yang bisa membuat pria manapun jatuh cinta. Namun entah
mengapa, sudah 11 bulan ia menjomblo. Abby yang perfeksionis dalam
bekerja, ternyata kerap membawa keperfeksionisannya dalam hubungan lawan
jenis. Misalnya seperti yang digambarkan opening scene, Abby
berkencan dengan seorang pria di sebuah restoran mewah. Sebelum
berkencan, asisten Abby sudah membawakan `bekal` berupa aneka catatan
tentang pria tersebut. Bahkan ia sampai menyiapkan daftar topik-topik
pembicaraan jika mereka tak lagi menemukan bahan pembicaraan. Abby juga
memiliki 10 kriteria yang harus terpenuhi dari seorang lelaki. Jika ada 1
yang tak cocok, maka pria itu akan dicoret namanya. Terdengar
menyeramkan ya?
Sampai suatu saat Abby harus bekerjasama dengan Mike Chadaway (Gerard
Butler), seorang pria playboy dan slenge`an yang terkenal lewat
acaranya bertajuk `The Ugly Truth`. Dimana di program ini Mike sangat
sinis terhadap cinta atau komitmen dalam hubungan lawan jenis. Sangat
berbanding terbalik dengan Abby tentunya yang selalu memimpikan akan
hubungan cinta yang romantis dan manis. Lalu bagaimana mereka berdua
akhirnya bisa bersatu? Lika liku musuh - teman kerja - sahabat lalu
jatuh cinta inilah yang menarik untuk disimak.
Kisahnya memang relatif bisa ditebak, akan berujung pada happy ending. Namun, alur yang dibuat sang sutradara Robert Luketic yang dikenal lewat karyanya Legally Blonde (2001) atau Win a Date With Ted Hamilton (2004) sungguh pandai membuat film ini menarik. Bumbu-bumbu komedi di film ini juga tidak berkesan `cheesy` alias
murahan. Tak hanya membuat tersenyum, namun bahkan mampu membuat seisi
bioskop terbahak!
Dramaturgi dalam Film The Ugly Truth
Film ini menarik diikuti karena
mengandung aspek-aspek yang memenuhi naluri kita sebagai khalayak media,
yang salah satunya adalah drama. Dari perspektif ilmiah
misalnya, pendekatan dramaturgi dari sosiolog Amerika Erving Goffman
(1959) sangat potensial untuk menganalisis cerita film The Ugly Truth. Goffman
adalah penafsir brilian teori interaksi simbolik George Herbert Mead
(1934). Sebagaimana Mead, Goffman sangat menekankan makna sosial dari
(konsep) diri karena individu mengambil peran orang lain dan bergantung
pada orang lain untuk melengkapkan citra-diri tersebut. Namun, kontras
dengan diri Mead yang stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk
masyarakat secara jangka panjang, diri Goffman bersifat situasional
karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial berbeda dalam
episode-episode pendek.
Menurut Goffman,
kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi "wilayah depan" (front region/stage)
dan "wilayah belakang" (back region/stage). Wilayah depan adalah tempat atau
peristiwa sosial yang memungkinkan individu atau suatu tim menampilkan
peran formal atau bergaya, bak memainkan suatu peran di atas panggung
sandiwara. Sebaliknya, wilayah belakang adalah tempat atau peristiwa
yang memungkinkan mereka mempersiapkan peran di wilayah depan. Wilayah
depan ibarat panggung depan (front stage) yang ditonton khalayak,
sedangkan wilayah belakang ibarat panggung belakang (back stage) atau
kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau
berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.
Dramaturgi
diperkenalkan pada 1945 Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 –
November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof
memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi
sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan
sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk
memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang
mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai
model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978).
Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu
sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life
Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 –
19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis,
memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam
bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar
bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life.
Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian
mendalam mengenai konsep Dramaturgi.
Menggunakan
pandangan Goffman, kebanyakan atribut, milik (rumah dan perabotannya,
mobil, busana), dan perilaku manusia digunakan untuk presentasi diri,
termasuk cara berjalan dan berbicara, pekerjaan dan cara menghabiskan
waktu luang, untuk memberi tahu orang lain siapa kita dan mengendalikan
pengaruh yang akan ditimbulkan busana, penampilan, dan kebiasaan kita
terhadap orang lain supaya orang lain memandang kita sebagai orang atau
tim yang ingin kita tunjukkan.
Dalam kebanyakan
kasus, pelaku dan khalayak mencapai apa yang Goffman sebut "konsensus
kerja" (working consensus) mengenai definisi atas satu sama lain dan
situasi yang kemudian membimbing interaksi mereka. Seperti aktor
panggung, aktor sosial membawakan peran, mengasumsikan karakter, dan
bermain melalui adegan-adegan ketika terlibat dalam interaksi dengan
orang lain. Meskipun Goffman mengakui bahwa drama kehidupan sosial
sehari-hari lebih penting daripada produksi teater bagi mereka yang
melaksanakan dan menyaksikannya, Goffman menunjukkan bahwa kedua jenis
drama tersebut menggunakan teknik yang sama, aktor sosial seperti aktor
teater bergantung pada busana, make up, pembawaan diri, dialek,
pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya untuk memproduksi pengalaman
dan pemahaman realitas yang sama.
Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak
stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian
kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja
berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah
dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam
dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater.
Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik
personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya
sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep
dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang
mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang
aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan
pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting,
kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal
ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan
interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan.
Oleh Goffman, tindakan
diatas disebut dalam istilah “impression management”. Goffman juga
melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di
atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”)
drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton
(yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan.
Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar
penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi
oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang
berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management
diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di
belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton.
Dalam
film ini kita bisa melihat bagaimana untuk mendapatkan cinta dari
seorang dokter yang menjadi tetanggga barunya, dengan bimbingan Mike
yang ahli dalam urusan percintaan mencoba untuk memainkan frontstage
sebaik mungkin dengan backstagenya. Ketika apa-apa yang tidak disukainya
justru harus dimainkan dalam mendapatkan cintanya, ternyata itu sangat
menyiksa. Sehingga ketika Abby berhasil mendapatkan cinta dokter itu,
justru kehampaan yang dirasakannya karena sesungguhnya dia menyadari
bahwa yang disukai itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Apalagi ketika
dia menanyakan kenapa pria itu mencintainya justru yang disebutkan
adalah sesuatu yang menjadi backstage bagi Abby. Akhirnya Abby
memutuskan untuk meninggalkan sang dokter pujaanya, dan akhirnya dia
memilih untuk mendapatkan cinta Mike setelah dia sadar bahwa Mike pun
ternyata mencintai dia sebagaimana adanya dia. Dan happy endinglah
keseluruhan cerita ini.
Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan
mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang
lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai
“breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang
dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi
interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan
ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu
sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan
berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam
komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri
yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup
dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen
pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya,
yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas
lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran
adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai
perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan
berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula
faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial
psikologis yang melingkupinya.
Goffman
sebenarnya secara intrinsik menekankan karakter yang kooperatif dan
moral interaksi manusia. Ia menunjukkan bahwa pertunjukan timbal balik
menciptakan aturan-aturan yang secara timbal balik diterima yang
membentuk basis interaksi sosial yang tertib. Ia tidak bermaksud
mengatakan bahwa semua perilaku manusia adalah berpura-pura, tidak jujur
atau untuk menipu.
Dengan kata lain, tidak semua
presentasi diri adalah misrepresentasi diri, orang ingin dan dapat
menunjukkan siapa dirinya sebagaimana ia ingin dan dapat
menyembunyikannya. Pemainan yang menipu, penipuan, sinisme, dan
pengkhianatan memang dilakukan melalui dramaturgi, tetapi begitu juga
cinta, kebenaran, ketulusan, dan keotentikan (Brissett dan Edgley,
1990). Bagaimana orang tahu bahwa kita orang yang ramah kecuali memang
kita harus bersikap ramah baik secara verbal ataupun nonverbal, yang
memungkinkan orang lain mendefinisikan siapa kita.
Teori dramaturgi Erving
Goffman sebenarnya tidak baru sama sekali. Empat belas abad lalu Allah
SWT juga telah mengingatkan lewat Alquran yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw bahwa kehidupan di dunia ini adalah panggung sandiwara,
meskipun Ia menggunakan istilah-istilah lain, misalnya, "Dan kehidupan
dunia hanyalah kesenangan tipuan." (Ali-Imran: 185), "Sungguh, kehidupan
di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tetapi jika kamu
beriman dan menjaga diri dari kejahatan. Akan diberi-Nya kamu pahalamu."
(Muhammad: 47), dan "Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan
akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit." (Ar-Rad: 26).
assalam mualaikum ibu..
BalasHapusini saya nike buk
mahasiswa ibu,..
btw tulisannya bagus-bagus buk
(ajarin ya buk...)
sekalian mau daftar ne buk..
silakan berselancar di blog sederhana saya buk di
http://ckeardina.blogdetik.com/
Thank's Nike.....
HapusNanti coba saya cek ke blog Nike dan kasih comment juga ya....
bu...mohon dicek blog saya bu....terima kasih....
BalasHapus