Sabtu, 18 Februari 2012

Dramaturgi Film The ugly Truth



 



Ringkasan Film

Jika Anda penyuka jenis novel chicklit, maka The Ugly Truth merupakan pilihan film yang tepat untuk ditonton. Pasalnya, dalam film ini penggambaran tokoh utamanya, Abby Richter, sangat cocok dengan tokoh-tokoh yang biasanya diumbar dalam chicklit. Cantik, menarik, memiliki karir yang bagus, mandiri, namun tak beruntung dalam kisah cinta.
 
Abby Richter (Katherine Heigl), seorang produser televisi, memiliki semua kriteria yang bisa membuat pria manapun jatuh cinta. Namun entah mengapa, sudah 11 bulan ia menjomblo. Abby yang perfeksionis dalam bekerja, ternyata kerap membawa keperfeksionisannya dalam hubungan lawan jenis. Misalnya seperti yang digambarkan opening scene, Abby berkencan dengan seorang pria di sebuah restoran mewah. Sebelum berkencan, asisten Abby sudah membawakan `bekal` berupa aneka catatan tentang pria tersebut. Bahkan ia sampai menyiapkan daftar topik-topik pembicaraan jika mereka tak lagi menemukan bahan pembicaraan. Abby juga memiliki 10 kriteria yang harus terpenuhi dari seorang lelaki. Jika ada 1 yang tak cocok, maka pria itu akan dicoret namanya. Terdengar menyeramkan ya?

Sampai suatu saat Abby harus bekerjasama dengan Mike Chadaway (Gerard Butler), seorang pria playboy dan slenge`an yang terkenal lewat acaranya bertajuk `The Ugly Truth`. Dimana di program ini Mike sangat sinis terhadap cinta atau komitmen dalam hubungan lawan jenis. Sangat berbanding terbalik dengan Abby tentunya yang selalu memimpikan akan hubungan cinta yang romantis dan manis. Lalu bagaimana mereka berdua akhirnya bisa bersatu? Lika liku musuh - teman kerja - sahabat lalu jatuh cinta inilah yang menarik untuk disimak.

Kisahnya memang relatif bisa ditebak, akan berujung pada happy ending. Namun, alur yang dibuat sang sutradara Robert Luketic yang dikenal lewat karyanya Legally Blonde (2001) atau Win a Date With Ted Hamilton (2004) sungguh pandai membuat film ini menarik. Bumbu-bumbu komedi di film ini juga tidak berkesan `cheesy` alias murahan. Tak hanya membuat tersenyum, namun bahkan mampu membuat seisi bioskop terbahak! 

Dramaturgi dalam Film The Ugly Truth 

 Film ini menarik diikuti karena mengandung aspek-aspek yang memenuhi naluri kita sebagai khalayak media, yang salah satunya adalah drama. Dari perspektif ilmiah misalnya, pendekatan dramaturgi dari sosiolog Amerika Erving Goffman (1959) sangat potensial untuk menganalisis cerita film The Ugly Truth. Goffman adalah penafsir brilian teori interaksi simbolik George Herbert Mead (1934). Sebagaimana Mead, Goffman sangat menekankan makna sosial dari (konsep) diri karena individu mengambil peran orang lain dan bergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra-diri tersebut. Namun, kontras dengan diri Mead yang stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk masyarakat secara jangka panjang, diri Goffman bersifat situasional karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial berbeda dalam episode-episode pendek. 

Menurut Goffman, kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi "wilayah depan" (front region/stage) dan "wilayah belakang" (back region/stage). Wilayah depan adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu atau suatu tim menampilkan peran formal atau bergaya, bak memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara. Sebaliknya, wilayah belakang adalah tempat atau peristiwa yang memungkinkan mereka mempersiapkan peran di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung depan (front stage) yang ditonton khalayak, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.

Dramaturgi diperkenalkan pada 1945 Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). 
Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

 Menggunakan pandangan Goffman, kebanyakan atribut, milik (rumah dan perabotannya, mobil, busana), dan perilaku manusia digunakan untuk presentasi diri, termasuk cara berjalan dan berbicara, pekerjaan dan cara menghabiskan waktu luang, untuk memberi tahu orang lain siapa kita dan mengendalikan pengaruh yang akan ditimbulkan busana, penampilan, dan kebiasaan kita terhadap orang lain supaya orang lain memandang kita sebagai orang atau tim yang ingin kita tunjukkan.

Dalam kebanyakan kasus, pelaku dan khalayak mencapai apa yang Goffman sebut "konsensus kerja" (working consensus) mengenai definisi atas satu sama lain dan situasi yang kemudian membimbing interaksi mereka. Seperti aktor panggung, aktor sosial membawakan peran, mengasumsikan karakter, dan bermain melalui adegan-adegan ketika terlibat dalam interaksi dengan orang lain. Meskipun Goffman mengakui bahwa drama kehidupan sosial sehari-hari lebih penting daripada produksi teater bagi mereka yang melaksanakan dan menyaksikannya, Goffman menunjukkan bahwa kedua jenis drama tersebut menggunakan teknik yang sama, aktor sosial seperti aktor teater bergantung pada busana, make up, pembawaan diri, dialek, pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya untuk memproduksi pengalaman dan pemahaman realitas yang sama.

Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. 

Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton.

Dalam film ini kita bisa melihat bagaimana untuk mendapatkan cinta dari seorang dokter yang menjadi tetanggga barunya, dengan bimbingan Mike yang ahli dalam urusan percintaan mencoba untuk memainkan frontstage sebaik mungkin dengan backstagenya. Ketika apa-apa yang tidak disukainya justru harus dimainkan dalam mendapatkan cintanya, ternyata itu sangat menyiksa. Sehingga ketika Abby berhasil mendapatkan cinta dokter itu, justru kehampaan yang dirasakannya karena sesungguhnya dia menyadari bahwa yang disukai itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Apalagi ketika dia menanyakan kenapa pria itu mencintainya justru yang disebutkan adalah sesuatu yang menjadi backstage bagi Abby. Akhirnya Abby memutuskan untuk meninggalkan sang dokter pujaanya, dan akhirnya dia memilih untuk mendapatkan cinta Mike setelah dia sadar bahwa Mike pun ternyata mencintai dia sebagaimana adanya dia. Dan happy endinglah keseluruhan cerita ini.
  
Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya. 
Goffman sebenarnya secara intrinsik menekankan karakter yang kooperatif dan moral interaksi manusia. Ia menunjukkan bahwa pertunjukan timbal balik menciptakan aturan-aturan yang secara timbal balik diterima yang membentuk basis interaksi sosial yang tertib. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua perilaku manusia adalah berpura-pura, tidak jujur atau untuk menipu. 

Dengan kata lain, tidak semua presentasi diri adalah misrepresentasi diri, orang ingin dan dapat menunjukkan siapa dirinya sebagaimana ia ingin dan dapat menyembunyikannya. Pemainan yang menipu, penipuan, sinisme, dan pengkhianatan memang dilakukan melalui dramaturgi, tetapi begitu juga cinta, kebenaran, ketulusan, dan keotentikan (Brissett dan Edgley, 1990). Bagaimana orang tahu bahwa kita orang yang ramah kecuali memang kita harus bersikap ramah baik secara verbal ataupun nonverbal, yang memungkinkan orang lain mendefinisikan siapa kita. 

Teori dramaturgi Erving Goffman sebenarnya tidak baru sama sekali. Empat belas abad lalu Allah SWT juga telah mengingatkan lewat Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kehidupan di dunia ini adalah panggung sandiwara, meskipun Ia menggunakan istilah-istilah lain, misalnya, "Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan tipuan." (Ali-Imran: 185), "Sungguh, kehidupan di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tetapi jika kamu beriman dan menjaga diri dari kejahatan. Akan diberi-Nya kamu pahalamu." (Muhammad: 47), dan "Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit." (Ar-Rad: 26).



3 komentar:

  1. assalam mualaikum ibu..
    ini saya nike buk
    mahasiswa ibu,..
    btw tulisannya bagus-bagus buk
    (ajarin ya buk...)
    sekalian mau daftar ne buk..
    silakan berselancar di blog sederhana saya buk di
    http://ckeardina.blogdetik.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank's Nike.....

      Nanti coba saya cek ke blog Nike dan kasih comment juga ya....

      Hapus
  2. bu...mohon dicek blog saya bu....terima kasih....

    BalasHapus